TURTUKOJI 2008
June 13th, 2008 by timunkancilTURTUKOJI
2008 (bagian pertama)
Jadi, pada akhirnya, saya
berhasil juga menyaksikan sebuah pagelaran musik akbar di tahun 2008 ini.
Bukan. Bukan konser dari sebuah band kenamaan asal Amerika atau Eropa, atau
band papan atas Indonesia. Ini sebuah pagelaran musik sebuah band indie asal Indonesia, yang oleh mereka yang
menggelarnya disebut sebagai Paparan Musikal. Ya!Paparan Musikal Cozy Street Corner. Cozy
Street Corner yang kali ini bekerja sama dengan WWF Indonesia dan Saung
Angklung Udjo, menggelar Paparan Musikal bertajuk “Senandung Warna Bumi”.
Penyelenggaraannya pada tanggal 7 Juni 2008 di Saung Angklung Udjo juga dalam
rangka memperingati hari lingkungan hidup sedunia yang jatuh pada tanggal 5 Juni 2008.
Dalam paparan musikal kali
ini, Cozy Street Corner membawakan 22 lagu dari campuran ketiga album mereka
(#1 repackage, nirmana, #3.3). CSC juga
berkolaborasi dengan Saung Angklung Udjo, Keroncong Asli Merah Putih, Bonita,
Kurtukoji, serta Sindu dan Patricia. Paduan warna musik Cozy Street Corner dengan
permainan angklung dan arumba pada lagu “S.B.U”, “Berlayar di Siang Hari”, dan
“Purna Sudah” menghasilkan sebuah atmosfer hangat dan bersahabat, menonjolkan
‘keindonesiaan’ musik itu sendiri. Ditambah lagi keapikan Keroncong Asli Merah
Putih yang sebelumnya juga telah tampil dalam Paparan Musikal Cozy Street
Corner 10 November 2007 di Jakarta, membuat para penikmat musik yang memenuhi
Saung Angklung malam itu terbuai oleh alunan keroncong a la Cozy Street Corner.
KMP mengiringi Kris (lead vocal, guitar)
pada lagu “Cemara Lilin” dan mengiringi Adoy (bass, vocal) pada lagu “Putri Ayu”. Selain itu KMP juga tampil
dengan lagu “Bandung Selatan di Waktu Malam”. Warna suara Bonita yang jernih
pada lagu “Penuh Dengan Cinta”, “What A
Day”, dan “Gayung Bersambut (Apa Iya?)” berpadu dengan musik yang oleh Cozy
Street Corner sendiri tidak ingin dilabel sebagai salah satu aliran musik
tertentu saja. Selain itu tampilnya Kurtukoji (kelompok paduan suara dari STISI
Bandung) juga melengkapi komposisi musik Cozy Street Corner malam itu yang juga
didukung oleh additional artist, Agus
Leonardi (drums), Barata (percussions), dan Nelden Djakababa (soprano recorder). Yang tak kalah
menarik adalah kehadiran koreografi tari tradisional dari Sindu dan Patricia
pada lagu “Punyaku Sendiri” yang mengundang decak kagum kurang lebih 250 orang
yang hadir malam itu.
Seperti pada penampilan
yang sudah-sudah, Cozy Street Corner senantiasa berinteraksi dengan para
penontonnya. Pada beberapa lagu seperti “What A Day” dan “Dendang Bersahutan”,
Kris, Boby, dan Adoy mengajak para penonton untuk bernyanyi bersama, atau ya,
berdendang bersahutan dengan mereka. Di beberapa lagu seperti “Kira Di Dada”,
penonton secara spontan bertepuk tangan, bahkan tidak sedikit yang berdiri
bersama-sama dan berjoget mengikuti alunan musik pada lagu yang bernuansa agak
‘dangdut’ itu. Semuanya itu menjadi suguhan yang sangat memuaskan bagi semua
yang datang, bahkan menjadi kepuasan tersendiri bagi Cozy Street Corner.
Selain menikmati repertoir
musik, para penonton juga sempat diajak untuk menyimak sebuah flim dokumenter
dari WWF Indonesia yang berjudul “Turtle
Berau”, yang pada kesempatan itu lebih memfokuskan kampanye mereka tentang
kelautan. Para penonton yang baru tiba juga diberikan kesempatan untuk
mengetahui sekilas tentang keadaan perairan / kelautan Indonesia serta keanekaragaman
hayati yang terkandung di dalamnya lewat brosur dan leaflet yang dibagikan.
Saung Angklung Udjo pun
tak kalah serunya mengajak para penonton untuk sejenak mengenal alat musik
bambu tradisional Sunda ini melalui workshop
singkat sebelum acara dimulai. Tiap penonton dibagikan masing-masing satu buah
angklung dengan nada berbeda-beda. Mereka diajari bagaimana cara membunyikannya
kemudian diajak untuk mengambil bagian dalam sebuah lagu yang sudah
dipersiapkan. Ternyata para penonton cepat belajar dan mengerti sehingga tak
kalah mantapnya memainkan angklung, walaupun mungkin tidak sehebat dan selancar
pemain angklung profesional. Hal lain yang ditawarkan oleh Saung Angklung Udjo
adalah berbagai cinderamata khas Saung Angklung yang dijual di toko cindera
mata yang memang harus dilalui penonton untuk menuju Balai Karasemen. Berbagai
ukuran angklung dan berbagai jenis pernak-pernik lainnya dengan harga cukup
terjangkau dapat diperoleh di toko ini.
Tak terasa, waktu pun
menunjukan pukul 10.15 malam, dan pertunjukan pun berakhir.Sungguh, sebuah
pengalaman yang tidak mudah dijelaskan dengan kata-kata dan akan sangat sulit
lekang dari ingatan. Pengalaman yang akan terus diputar ulang dalam benak beberapa
saat mendatang. Malam minggu itu menjadi malam minggu ketiga dalam hidup saya
yang saya rasa paling indah dan menakjubkan sehingga patut dikenang selamanya.
Dua malam minggu lainnya adalah hari Sabtu malam tanggal 28 Mei 2005 di Selasar
Sunaryo,Bandung pada saat Paparan Musikal
“Detak Nadi Musik Bumi” dan malam minggu kedua adalah Sabtu malam tanggal 10
November 2007 di Goethe Haus-Menteng, Jakarta pada saat Paparan Musikal “Save Our Music”.
Ya, ketiga malam minggu itu saat paling membahagiakan bagi saya, di mana saya
kembali mendapat pengalaman musikal yang luar biasa. Dan terima kasih kepada
Cozy Street Corner yang memberikan pengalaman tersebut kepada saya.
TURTUKOJI 2008 (bagian kedua)
p e r j a l a n a n n y a (saya) . .
.
Adapun
bagi saya, pengalaman ini tidak hanya pada saat acara Paparan Musikalnya
berlangsung. Semuanya dimulai dari keberangkatan saya dan teman-teman menuju Bandung. Kami berangkat
dari Jakarta sekitar pukul 9.30 malam setelah
Mba Detta (RDI), Gabi, dan saya dijemput di Plaza Indonesia. Mobil yang kami gunakan
adalah sebuah mobil sewaan bersama drivernya,
dengan jenis van berkapasitas 12
orang+1 (si bapak driver). Ya,
mereknya Pregio. Di barisan depan duduklah Kang Dadang sang driver dan Yogi (yang rambutnya gimbal)
yang malam itu menjadi music director
dalam perjalanan kami namun kemudian tertidur karena tiba-tiba si audio playernya ngadat. Di barisan kedua
duduklah Anyi (yang pada saat kami naik dari depan Hotel Grand Hyatt sudah
meringkuk bersama bantal kesayangannya), Mba Detta, dan saya. Di baris ketiga
ada Wiwit dan kekasihnya (halah), Imada, dan Gabi. Di baris terakhir ada Fara,
Sasha, dan Ombus. Total semuanya 11 orang, seperti sebuah kesebelasan sepak
bola. Kami sempat sama-sama bernyanyi sambil mendengarkan lagu “Rehab”-nya Amy Winehouse. Malam itu
kawasan Sudirman lumayan padat dan sedikit tersendat. Lepas dari sana kami memasuki Jl.
Jend. Gatot Subroto, melipir menghampiri pintu tol Semanggi 2. Lalu kami
kembali berjalan perlahan, ternsendat di jalan yang katanya ‘bebas hambatan’
itu.
Sekitar
pukul 10 malam kami baru tiba di pintu tol Pondok Gede Timur. Di sebelah kiri
tol, saya menoleh pada perumahan tempat tinggal saya. Ada sedikit rasa kuatir sebenarnya karena
malam sebelumnya hujan turun dengan deras sementara rumah orang tua saya itu
hanya beratapkan kain terpal setelah semua gentengnya dibuka untuk direnovasi.
Yang terjadi adalah kain terpal ternyata tidak terlalu sempurna menutup semua
permukaan atas rumah sehingga air hujan tetap membasahi plafon yang kemudian
memberat lalu roboh. Itu yang membuat saya kuatir malam itu. Tapi saya berdoa,
agar hujan tidak turun malam itu.
Para penumpang mobil yang sebelumnya cukup bersemangat untuk bernyanyi
bersama, nampaknya mulai kelelahan dan mulai tertidur. Saya beberapa kali
terjaga, melirik kang Dadang (loh, kok?) untuk melihat apakah dia baik-baik
saja atau mengantuk. Setelah memasuki tol Cipularang, hujan sempat turun, walau
tidak terlalu deras dan tidak terlalu lama. Sekitar pukul 12.15 dini hari,
mobil kami tiba di gerbang tol Pasteur. Rp. 37.000. Naik Rp. 2.500 dari RP.
34.500, terakhir kali saya ke Bandung Januari 2008 lalu. Teman-teman pun
terbangun.
Jadi
itulah Bandung
tengah malam. Indah dengan sejuta lampu di bukit-bukitnya, serta udara dingin
yang menyapa lembut. Ah, tiba-tiba saya merindukan seseorang yang sebelumnya
dikabarkan akan ikut mengambil bagian dalam paparan tetapi tiba-tiba tidak jadi
karena kesibukan pekerjaannya. Ah kecewanya.. Setibanya malam itu di Bandung, saya masih
sedikit berharap, paling tidak, walaupun dia tidak ikut bernyanyi, dia datang
untuk menyaksikan paparan tersebut. Toh dia tinggal di Bandung.. dan tempat kerjanya tak terlalu
jauh dari Saung Angklung Udjo di Jl. Padasuka..
Seperti
yang barusan saya tulis, itulah Bandung
di waktu malam. Entah kenapa, rasa kagum saya terhadap kota Bandung dan Pulau Bali
tidak ada habis-habisnya. Saya selalu ingin ada di sana.. Hm.. walau kadang Jakarta
di waktu malam pun sebenarnya tidak kalah indahnya dibanding Bandung
dan Bali.
Kami
menyusuri jalanan yang melengang tengah malam itu. Menaiki fly over Pasopati (apa iya ya?) lalu menuju Jl. Padasuka. Kami
melambat meminggir ke sebelah kanan, berbelok menghadap sebuah gerbang tertutup
yang terbuat dari bambu. Sebuah spanduk besar tentang acara Paparan Musikal
sudah terpampang di depan gerbang. Gerbang pun dibuka dan mobil kami masuk.
Sambil mencari-cari letak guest house
tempat kami menginap, kami melihat-lihat sekitar. Tempat yang cukup luas dengan
pepohonan rindang dan bambu-bambu yang menaunginya. Kami turun di depan sebuah gues house yang lampu berandanya menyala
temaram. Di berandanya duduklah Kk Bonita, Mas Adoy, Om Kris, Kk Sylvie, Mba
Nelden, Om Barata, dan Ape. Sementara ketika pintu mobil dibuka, kami disambut
oleh Agus (Bhotax) dan Mas Do. Tak lama setelah itu mas Ibut muncul. Kami semua
lalu berhamburan keluar dari mobil, bersalaman, dan berpelukan. Udara dingin
yang mulai menyapa seperti menghangat oleh tawa dan senyuman kami. Guest house yang kami singgahi itu yang kemudian dipakai oleh Mas Adoy, Kk Boni,
Adik Pram, Mba Nelden, Yogi, Sasha, Ombus, Fara, Wiwit, dan Imada. Sementara
Mas Do, Om Barata, Om Kris, Kk Sylvie, Mas Ibut, Anyi, Ape, Bhotax, Mba Detta,
Gabi, dan saya menempati guest house
yang lainnya, yang tepat berada setelah gerbang masuk tadi.
Setelah
berjalan berjinjit sambil menahan nafas melihat Adik Pram yang sudah tertidur
tenang dan pulas di atas kasur, kami menuju guesthouse
di depan sambil membawa barang-barang kami. Guest
house ini seperti sebuah rumah panggung yang bertingkat 2. Ada 2 kamar tidur di
lantai bawah, dan 1 kamar lagi di lantai atas. Di lantai bawah juga ada ruang
tamu yang juga bisa digunakan untuk tidur, serta sebuah ruang kecil dengan meja
makannya. Di lantai atas pun ada sebuah ruang tamu kecil di depan kamar yang
juga bisa dipakai sebagai tempat tidur. Di lantai bawah ada 2 kamar mandi yang
dirancang sedemikian rupa sehingga bernuansa alami, dengan tambahan
potongan-potongan bambu sebagai pintu, ujung shower, dan alas kaki di bawah
pancuran, serta tentunya, air panas yang senantiasa menemani, 24 jam non stop.
Mba
Detta, Gabi, dan saya menempati 1 kamar di bawah. Sebagian bangunan ini
dibangun dengan tembok (semen) dan beberapa bagian lainnya terbuat dari anyaman
bambu. Lantainya terbuat dari papan kayu. Tangga kayu di depan pintu menjadi
tempat yang menyenangkan untuk duduk-duduk bersama sambil berbincang atau
sekedar merokok menghalau udara dingin. Tapi malam itu sudah terlalu larut
sehingga teman-teman memilih untuk berbaring meringkuk di bawah selimut, beristirahat,
mengingat bahwa dalam beberapa jam ke depan mereka akan tampil dengan kurang
lebih 2 lusin lagu. Gabi dan saya sedikit penasaran seperti apa tempat
manggungnya, jadi kami berdua berjalan menuju Balai Karasemen. Bentuknya bisa
dibilang seperti amphitheatre, mirip
dengan Selasar Sunaryo. Hanya saja lebih luas dan posisi panggungnya lebih ke
tengah. Beberapa orang terlihat sedang membereskan alat-alat dan sound system, entah baru selesai dipakai
malam jumat itu atau untuk keperluan paparan.
Kami pun
kembali ke kamar. Mencuci muka dan kaki, mengganti celana tidur. Bantal dan
kasur kami kibaskan dari nyamuk-nyamuk yang sudah pingsan atau mungkin mati,
ketika tiba-tiba lemari baju di dalam kamar terbuka sendiri. Gabi dan saya
sempat saling berpandangan lalu kemudian berhamburan ke luar kamar, namun masuk
lagi sambil menyapa, “Permisi…”. Kami berdoa memohon perlindungan sebelum
tidur, agar diberikan istirahat yang cukup. Kami menyetel alarm di jam dan handphone, jam 07.00 pagi. Belum sempat
tertidur, Anyi masuk ke kamar kami dan menawarkan untuk bersama-sama mencari
makanan. Lapar. Saat itu sudah sekitar jam 2 kurang. “Paling-paling nasi
gorenglah..”.
Dengan
pedenya, Gabi dan saya yang sudah bercelana tidur berjalan meninggalkan kamar.
Di luar guest house ada Wiwit, Imada,
Mas Ibut, dan.. ah, saya lupa. Aneh dan lucu rasanya menyusuri Jl. Padasuka di
pagi buta itu. Beberapa kendaraan masih berlalu lalang dan kami berjalan
menepi. Tibalah kami di depan gerobak penjual nasi goreng. Di belakangnya ada
beberapa orang bapak yang sudah mengantri sebelum kami. Saat akan memesan, si
bapak bilang, nasinya hanya cukup untuk 3 porsi lagi, dan itu termasuk untuk
bapak-bapak yang sudah antri. Kami pun terpaksa pergi lagi, kembali ke Saung
Udjo. Beberapa teman, Anyi, Mas Ibut, Ape, Imada dan Wiwit, (sepertinya)…
naik mobil Ape menuruni Jl. Padasuka, sementara Gabi dan saya hanya memesan
sebungkus nasi goreng untuk berdua. Kami memilih untuk duduk di bangku kayu
yang menempel di dinding luar daripada masuk dan berlalu lalang di ruang tamu
sementara Bhotax sudah lelap tertidur di sana.
Bangku yang kami duduki itu agak tinggi letaknya sehingga kaki kami bisa
diayun-ayunkan sambil kami bernyanyi perlahan. Udara pun semakin dingin dan
kami mulai mengantuk, oya, juga kelaparan. Dan nasi goreng pun tak kunjung
tiba.
n a s i g o r e n g t a k b e r s e n d o k tiba . . .
Saat itu
sekitar pukul 2.35 pagi hari, sesaat sebelum saya sempat mengirimkan pesan
singkat kepada Anyi untuk menanyakan keberadaan mereka, sebuah mobil putih
memasuki pintu gerbang dan kami berteriak pelan, “Hore..!”. Makanan pun tiba.
Anyi dan mas Ibut turun membawa sebungkus nasi goreng. Panas. Kami segera
membukanya. Harum. Dengan beberapa lembar kerupuk. Tanpa sendok. Tanpa pikir
panjang, setelah mengucap doa, kami pun menyantap nasi goreng itu dengan
bersendokkan beberapa lembar kerupuk. Rasanya mungkin tidak luar biasa lezat,
tapi karena kami lapar dan kedinginan, rasanya jadi sangat enak. Gabi sempat
bertanya, “Tas, kalau kerupuknya habis gimana?”. Saya tidak menjawab, tapi
langsung menyuap nasi goreng dengan jari-jari saya. “Makan nasi apa aja gw dah
pernah, Tas, pake tangan, kaya’ nasi padang,
tapi kalo nasi goreng, wah, ini pertama kali mungkin..”, kata Gabi. Kemudian
Gabi menyusul saya. Jadi, itulah pengalaman pertama kami makan nasi goreng jam
3 pagi di Bandung,
dengan tangan, bukan dengan sendok. Ada
perasaan lucu ingin tertawa terbahak, tapi takut tersedak nasi goreng yang
tidak hanya panas, tapi juga pedas itu.
Selesai
makan, kami mencuci tangan di dalam, mengambil air mineral gelas, dan masuk ke
kamar. Mba Detta ternyata sudah ada di balik selimut. Kami pun mengendap-endap
naik ke atas kasur, takut membangunkan. Ternyata mba Detta belum tidur. Lalu
kami berbincang tidak keruan, entah membicarakan apa hingga akhirnya saya
tiba-tiba berkata, “Tuhan, kasih saya pacar yang baik dong, yang pengertian dan
tidak macam-macam.. tidak usah harus besok langsung datang, tapi kalau boleh,
jangan terlalu lama juga ya..”. Lalu tiba-tiba Gabi menyahut, “Gabi juga ya,
Tuhan..”. Spontan mba Detta tertawa
terbahak dan merasa perkataan kami lucu bukan main sampai-sampai tidak bisa
berhenti tertawa dan kami kuatir itu akan membangunkan teman-teman yang lain.
Akhirnya kami merasa benar-benar lelah, mengantuk, dan harus beristirahat.
mie instan rebus, tahu sumedang, dan
cover #1 repackage…
Saat
alarm jam saya maupun hpnya Gabi berbunyi pukul 07.00 pagi itu, kami sama
sekali tidak berkutik dari kasur kami. Baru setelah Anyi masuk ke kamar kami
dengan wajah segar sehabis mandi, kami mulai menggeliat dan merenggangkan
badan. Pagi itu dibuka dengan gosip-gosip ringan yang kemudian menjadi gosip
hangat hingga tak disangka, di malam harinya menjadi kejadian besar yang
menghebohkan banyak sekali orang. Gosip ringan tentang seseorang (atau lebih)
yang berambisi dan berobsesi sangat besar namun tidak bisa melakukan apa-apa. No action, talk only. Ya, itulah dia
(mereka). NATO. Setelah itu orang-orang mulai berdatangan ke guest house kami, termasuk Mas Adoy, Kk
Boni, dan Adik Pram. Si Adik Pram itu lucu sekali. Dengan mata besarnya yang
jernih dan seakan enggan berkedip itu dia mencermati setiap orang baru yang
dilihatnya. Mulutnya ternganga sekan takjub akan banyaknya orang di sekitarnya,
hingga Adik Pram pun meneteskan air liurnya.
Semuanya itu menjadi pemandangan begitu menghibur di pagi hari,
membangkitkan semangat untuk mulai beraktivitas. Sementara itu teman-teman yang
lain asik berbincang di luar. Beberapa mengepulkan asap rokok dari mulut
mereka. Gabi dan saya pun mulai mempersiapkan pekerjaan pemotongan cover kaset #1 repackage. Ada
sekitar 24 kaset yang overnya mesti
kami potong karena baru dicetak beberapa hari lalu. Tapi Gabi mau mandi pagi
dulu. Jadi saya memulai memotong dan mencoba melipatnya seperti yang dicontohkan
Mas Ibut tadi malam. Beberapa teman menawarkan untuk memesan mie instan di
warung sebelah untuk sarapan pagi. Saya memesan 2 mie rebus, 1 untuk saya dan 1
lagi untuk Gabi. Setelah Gabi selesai mandi, mie rebus panas dan telur pun siap
disantap. Kami menikmatinya sambil kembali berkata, “Kenapa ya mie buatan orang
itu pasti lebih enak daripada yang kita buat sendiri?”. Anyi pun ikut bergabung
disusul Mas Ibut yang tiba-tiba membawa sepiring tahu sumedang yang baru
diangkat dari penggorengan. Panas. Harum. Garing. Lezat! Ya! Bagian luar
tahunya garing dan bagian dalamnya lembut dan berongga seperti tahu sumedang
pada umumnya. Entahlah, rasanya dengan mie rebus itu (plus cabe rawit) seperti
perpaduan yang luar biasa nikmat (berlebihan, karena lapar). Setelah selesai
sarapan yang sedikit dibumbui sesi gosip lanjutan, kami pun kembali bekerja.
Selesai dengan kegiatan memotong dan melipat cover pun saya segera mandi (dengan air panas, tentunya) karena
orang-orang mulai membantu mengangkat alat-alat menuju Balai Karasemen untuk
kegiatan set alat sekalian cek sound.
Gabi dan saya menyusul ke sana setelah kami mengunci semua pintu.
Apa yang
saya lihat segera membuat saya merinding. Bukan karena ketakutan atau
kedinginan, tapi karena membayangkan betapa akan hebat luar biasanya (tidak
berlebihan , loh…) acara nanti malam. Lagu dari MP3 cozy street corner pun
diputar sambil Bhotax mulai menyetel drum
setnya. Gabi dan saya sempat berjalan-jalan ke bagian lain dari Saung
Angklung. Sebuah taman di sebelah Balai Karasemen dengan saung-saung kecil yang
dinaungi pohon-pohon dan tanaman bambu. Keren! Kami lalu kembali duduk manis di
deretan kursi, memandangi 5 orang yang sedang mondar-mandor memperhatikan
susunan alat di panggung. Gabi dan saya, entah kenapa, tidak berhenti berdecak
kagum. Lalu beberapa orang datang duduk bergerombol, orang-orang yang kemudian
kami kenali sebagai Kurtukoji, anak-anak STISI Bandung yang akan menjadi choir pengiring paparan nanti. Dan pupus
sudah harapan saya akan bertemu orang itu, karena dia tidak ada di antara
orang-orang tersebut, ditambah sebuah pesan singkat dari dia yang mengatakan
dia tak akan sempat datang karena banyaknya tugas yang harus segera
diselesaikan. Hhhh.. tapi ya sudahlah, saya kembali teringat tujuan utama saya
ke Bandung adalah untuk bersenang-senang mengikuti Paparan Musikal. Ada atau tidak adanya orang itu hanya akan
menjadi bonus atau tambahan saja. Mestinya tidak mempengaruhi kesenangan saya.
Mestinya.
Tak
terasa waktu sudah pukul 12 siang. Merasa lapar, Gabi dan saya membeli es krim
yang dijual di toko cinderamata. Walaupun sebenarnya saya sedang flu, saya tetap ingin memakannya. Lalu
kami melihat kk Sylvie mulai mengangkat makanan-makanan kotak yang akan
dibagikan kepada pendukung acara yang ada di sekitar Balai Karasemen. Kami pun
membantu. Setelah itu kami kembali ke guest
house untuk makan. Nasi timbel (yang pastinya dibungkus daun pisang),
sepotong ayam goreng, tahu,tempe,
dan sepotong kecil ikan jambal goreng (yang pastinya asinlah..), dan sayur
lalap beserta sambelnya. Kami lapar dan rasanya enak. Selesai makan saya
memesan es teh manis di warung sebelah. Lalu Gabi dan saya membantu Anyi
menghitung tiket undangan dan tiket pesanan. Selepas itu kami menuju Balai
Karasemen, menyaksikan sebuah band yang sedang melakukan sound check, ya, Cozy Street Corner. Entah itu termasuk gladi
bersih atau tidak karena memang agak singkat mengingat pukul 4 sore Balai
Karasemen harus bersih karena akan digunakan untuk pertunjukan rutin tiap sore.
Alat-alat harus diungsikan terlebih dahulu. Setelah itu kami semua kembali ke guest house. Kali ini hampir semua orang
berkumpul di guest house kami. Ada yang duduk-duduk di
tangga luar, di bawah pohon, di bangku kayu yang menempel di dinding luar, dan
di dalam guest house. Sementara Gabi
dan saya memilih duduk di bangku kayu tempat kami makan nasi goreng tadi subuh.
Menyaksikan Om Kris, Mas Adoy, Mas Do, Om Barata, dan Bhotax duduk di bawah
pohon sambil tertawa dan berbincang-bincang. Sesekali mereka terlihat
membicarakan tentang lagu yang akan mereka mainkan. Setelah mas Adoy meminta
Gabi membelikan the botol, mas Do memesan es kelapa muda yang kemudian membuat
kami tergiur. Gabi dan saya pun ikut-ikutan memesan. Segar. Enak. Padahal es
kelapa muda selayaknya minuman yang diminum di tepi pantai di kala hari panas,
tapi tak ada juga yang melarang meminum es kelapa muda di Bandung yang dingin ini. Jadi kami
meminumnya. Kami cukup lama duduk di sana
sambil menantikan pukul 3.30, waktunya untuk briefing acara. Jam 4 pun tiba dan kami masih santai-santai duduk
di sana.
Setelah itu barulah kami masuk ke dalam guest
house untuk bersiap-siap. Anyi, Mas Ibut, dan Mas Moeloes memberikan
penjelasan singkat tentang posisi ticket
box, meja penjualan kaset dan pin, serta posisi yang akan menyobek tiket
dan memberikan buku tamu. Gabi masih sempat pergi mandi, sementara saya hanya
mencuci muka dan berganti baju, lalu menyusul Anyi menuju ticket box.
t h
e s h o w t i m e . . .
Kami
sempat membagikan beberapa flyer
acara paparan kepada pengunjung yang baru saja selesai menyaksikan pertunjukan
rutin angklung. Akhirnya Gabi yang menjaga meja penjualan kaset ditempatkan
tepat di ujung toko cinderamata yang berbatasan dengan tangga menuju Balai
Karasemen. Sementara Anyi dan Endang menjaga ticket box serta Mba Nani (istri mas Moeloes yang tengah mengandung
4,5 bulan) memeriksa tiket masuk dan membagikan buku tamu.
Baru
sekitar pukul 7 malam orang ramai berdatangan. Banyak juga ternyata yang baru
membeli tiket malam itu di samping orang-orang yang sudah sebelumnya memesan
tau membelinya dari commonroom yang menjadi tempat penjualan tiket early bird, serta orang-orang dengan
tiket undangan dan teman-teman dari media. Pertunjukan yang sedianya dimulai
pukul 6.30 sore dengan pemutaran film “Turtle Berau” itu agak sedikit molor, dan
Balai Karasemen perlahan mulai penuh. Sekitar pukul 7.30 Cozy Street Corner
mulai beraksi. Belum pernah saya menyaksikan mereka tampil sambil berdiri
(hampir selalu dengan duduk di kursi). Tapi malam itu mereka terlihat begitu lain
dan k.e.r.e.n. Entah saya yang norak atau memang pemandangannya begitu. Mereka
keren. Potongan tiket yang kami kumpulkan mulai kami hitung jumlahnya. Hingga
akhir acara terkumpul sebanyak 160 potongan tiket. Sementara orang-orang tanpa
tiket yang masuk, seperti media dan undangan dari Saung Angklung Udjo dan
panitia yang kemudian melengkapi angka kurang lebih 250 penonton malam itu.
Memang, Anyi, Endang, Mba Nani, saya, kk Sylvie, Gabi
dan beberapa panitia lain mungkin tidak bisa mengikuti acara dari awal karena
ada tugas yang harus kami kerjakan. Tapi karena acara pun agak sedikit molor,
kami pun ternyata tidak ketinggalan terlalu banyak. Kami selesai bertugas dan
bisa duduk di deretan penonton mendengarkan lagu ke 11 di sesi kedua. Masih ada
sekitar 11 lagu lagi yang bisa kami nikmati sampai puas. Dan memang, kami puas.
Kami bernyanyi bersama, tertawa, dan berjoget. Beberapa teman yang datang dari Jakarta juga ikut
bersama-sama dengan kami bernyanyi dan bergoyang. Bahkan pada lagu “Dendang Bersahutan” yang disambung dengan lagu “Kira Di Dada”, saya yakin, tak hanya kami
yang tidak mampu menahan untuk bergoyang, tapi seisi Balai Karasemen pun ingin
bergoyang, hanya saja mungkin beberapa tidak ‘segila’ kami. Hehehe.
Tidak terasa, sampai juga di lagu “Farewell
So Long” yang diikuti lagu “Mari Pulang”, lagu yang kemudian
mengakhiri Paparan Musikal Cozy Street Corner malam itu. Waktu sudah
menunjukkan pukul 10.15 malam. Lewat sekitar 15 menit dari waktu yang diberikan
oleh pihak Saung Udjo untuk menyelenggarakan acara malam itu. Tapi tak menjadi
masalah. Orang-orang yang mulai beranjak berdiri, berjalan pulang dengan wajah
berseri. Puas dengan suguhan yang baru saja mereka nikmati. Beberapa sempat
mampir untuk membeli kaset, cd, atau beberapa pin. 6 buah CD #3.3 from the corner yang kami bawa, habis
terjual.
Betapa puas dan senangnya kami malam itu. Tidak hanya
para pendukung acara, tapi juga Cozy Street Corner sendiri, walau sebenarnya
masih ada satu hal tersisa yang harus diselesaikan malam itu. Sebuah masalah
besar yang sempat membuat hati panas. Tapi entahlah bagaimana caranya, sehingga
masalah tersebut bisa ‘diselesaikan’ dengan orang yang
bersangkutan tanpa seorang pun yang terluka. Tidak. Tidak ada kekerasan fisik
yang terjadi. Hanya ketajaman dan ketegasan kata-kata, yang mungkin bisa
dibilang menjadi evaluasi bagi orang-orang yang mengambil bagian dalam
persiapan paparan kali ini.
Semuanya sudah selesai. Semuanya senang. Puas. Kami
pun membantu membawa barang-barang dan alat-alat dari Balai Karasemen dan
menyimpannya di guest house. Di sana sudah berkumpul
banyak teman-teman dan para pendukung acara. Ucapan selamat, jabat tangan, dan
rangkulan hangat berdatangan dari mana-mana untuk siapa-siapa, terutama untuk
Cozy Street Corner yang tampil sempurna malam itu.
Badan yang lelah dan perut yang sebenarnya sudah
lumayan lapar seperti terlupakan sejenak oleh momen istimewa yang kami saksikan
malam itu. Keramahan dan rasa kekeluargaan di antara kami semua membuat saya
kembali memikirkan perbincangan Anyi dan saya beberapa hari lalu lewat telepon.
Kami berbicara tentang mengapa orang ingin selalu kembali menyaksikan Cozy
Street Corner tanpa ada rasa bosan atau muak. Paling tidak alasan mengapa kami,
Anyi dan saya, dan teman-teman yang lain, tetap setia menyaksikan mereka.
Bahkan sampai kami hafal hampir semua lirik lagu-lagu mereka. Anyi sempat
berkata, “gw yakin, bahwa 1 atau 2 hari
setelah lo nonton paparan, lo akan kembali teringat dan berkata ‘gila, 2 hari yang lalu gw
baru nonton paparan’,
dan gw yakin itu masih akan terus diputar dalam pikiran lo di hari-hari
seterusnya..” (maaf Nyi, ga sama persis
dengan yang lo ucapin, tapi intinya gitukan?).
Dan walau baru sekitar 1 jam berlalu, ketika Gabi, Endang, dan saya berbaring
sejenak di kamar kami, saya memikirkannya. Saya baru saja menyaksikan semuanya
itu!
Sebenarnya ada sedikit penyesalan karena saya tidak
bisa merekam atau mengabadikan momen itu dengan handycam atau digital camera
seperti yang saya lakukan pada saat paparan bulan november lalu di Goethe Haus
Menteng. Tapi malam itu juga saya merasa ingin sekali sekedar menikmati tanpa
sibuk mencari posisi yang tepat untuk merekam atau mencari setingan lighting agar gambar yang saya rekam
tidak gelap. Saya yakin, gambar-gambar yang berhasil diabadikan Mba Detta akan
mengobati penyesalan saya, bukan begitu mba Detta?
Malam semakin larut dan teman-teman pun mulai
berpamitan. Ketika itu sudah sekitar pukul 11.30 malam dan perut kami mulai
terasa lapar. Kami mencari-cari di mana tersedia makanan yang mungkin masih
tersisa untuk kami. Tapi ternyata memang tidak ada. Jadi, beberapa teman
mengajak untuk mencari nasi goreng (lagi). Om Barata, Ombus, Imada, Wiwit, Mba
Nelden, Mas Do, Gabi dan saya pun berjalan menuruni Jl. Padasuka. Kami mencari
tukan nasi goreng dan memastika bahwa porsinya kali ini cukup. Kami rencananya
akan membungkus nasi goreng tersebut, tapi karena ternyata tersedia bangku di sana, maka akhirnya kami memakan nasi goreng pesanan kami
langsung di sana.
Rasanya memang tidak selezat nasi goreng yang Gabi dan
saya makan dengan tangan itu, tapi ya sudahlah, kami lapar. Ternyata mas Do
tidak ikut memesan nasi goreng dan lebih dahulu kembali ke Saung Angklung.
Dalam perjalanan pulang, kami baru tahu kalau ternyata Mas Do sering sakit
maag-nya. Gabi mengatakan bahwa susu putih itu cukup manjur untuk mengurangi
sakit maag. Ombus tiba-tiba bertanya, apakah susu seperti susu ultra cukup
baik, karena dikemas dalam kotak dan mungkin saja mengadung pengawet yang
banyak karena biasanya tahan dalam waktu yang lama. Apakah sama sterilnya
dengan susu sapi murni. Kami pun membahas bahwa sebelum dikemas, susu kotak
sudah melalui proses sterilisasi sehingga tahan untuk waktu lama tanpa
menggunakan zat pengawet. Sama halnya dengan susu sapi yang masih di dalam
tubuh sapi. Kata Gabi, “iya,
sama aja dengan susu sapi kan masih diperutnya”. Lalu saya spontan
mengatakan bahwa susu sapi bukan di perut sapi. “Lalu di mana?” tanya Ombus. “Di dadanya” jawab saya polos. Kami lalu
terdiam dan membayangkan, memangnya sapi punya dada? Kami pun tertawa geli
terbahak, merasa bodoh membahas di mana susu sapi berada.
Setibanya di Saung Udjo, kami kembali ke guest house. Di sana ramai berkumpul banyak orang. Sedang
membahas perihal ‘evaluasi’ mendadak terhadap seorang
yang membantu persiapan paparan tersebut. Dengan seru pun kami mendengarkan dan
sesekali ikut berkomentar. Malam pun semakin malam dan saya sudah begitu
mengantuk. Orang-orang akan menuju guest
house satu lagi tempat mereka akan menghabiskan sisa malam yang indah ini.
Gabi dan saya memilih untuk merebahkan badan kami di atas kasur. Dan kami pun
bersiap untuk tidur.
rangginang and wall‘s magnum classic for breakfast, please..
Minggu pagi kami terbangun karena Anyi kembali
membangunkan kami. Rasanya kami semalam baru saja bermimpi indah sekali. Tapi
ternyata itu bukan mimpi, karena semalam kami memang benar-benar mengalaminya.
Kami pun mulai berdiri dan mengintip ke luar kamar. Rasanya agak enggan untuk
segera pulang ke Jakarta..
masih ingin lebih lama lagi menikmati suasana ini..
Saat itu sudah sekitar pukul 8.30 pagi. Kami mulai
mencari-cari sarapan, sayangnya warung di sebelah guest house kami ternyata tutup di hari minggu. Untuk menunda
sarapan, kami pun memutuskan untuk melihat-lihat hasil jepretan mba Detta
semalam. WOW! Bagus-bagus. Keren. Tak puas hanya melihat melalui kameranya, filenya pun dipindahkan ke laptop Mas Do
sehingga bisa lebih jelas kami saksikan. Pagi itu ada Mas Adoy, Mas Do, Bhotax,
Mas Ibut, Mba Detta, Gabi, dan saya yang duduk asik menonton foto-foto itu.
Tiba-tiba saya mengajak Gabi untuk membeli es krim (lagi) di toko cinderamata.
Kali ini mas Adoy dan mas Do menitip Wall’s Magnum Classic. Wah. Saya pun tergiur dan kami
membelinya, ditambah sebungkus kerupuk nasi, rangginang (apa rengginang ya?).
Sekembalinya dari sana, kami segera menyantap es krim tersebut.
Om Kris pun bergabung dan mencicip. Lalu terlihatlah rangginang itu. “Wah, ini adalah salah satu
penganan kesukaan gw. Bagi ya?” kata Om Kris. Kami pun penasaran dan memakannya.
Ternyata enak. Lalu Gabi dan saya pergi lagi untuk membeli 2 bungkus rangginang
lagi. Dan pagi itu kami sarapan es krim dan rangginang. Enak.
Siang pun mulai turun dan kami rasa sudah waktunya
kami untuk siap-siap dan berkemas, mengingat bahwa kami harus kembali ke Jakarta dan mengembalikan
mobil sewaan kami. Kami mandi, membereskan kamar, membuang sampah-sampah dan
merapikan kembali guest house yang
nyaris seperti kapal pecah itu.
Waktunya pun tiba, sekitar pukul 3 sore, kami
memasukkan barang-barang ke mobil dan bersiap pergi meninggalkan Saung
Angklung. Setelah sebelumnya berjabat tangan dan berpelukan dengan orang-orang
yang tidak akan ikut bersama kami makan siang di Toko You di dekat Dago. Om
Kris dan kk Sylvie naik mobil terpisah. Sementara Bhotax dan Ape sepertinya
akan langsung ke Jakarta.
Kk Boni dan Mas Adoy masih harus menjemput Adik Pram yang semalam dititipkan.
Mas Do, Anyi, Mas Ibut, Mba Nelden serta alat-alat ada di mobil kijang.
Sementara penumpang Pregio tetap berjumlah 11 orang, walau kali ini Anyi
digantikan oleh Om Barata.
Kami pun menuju Toko You untuk bersantap siang di sore
itu. Tiba di sana,
kami mulai memesan. Cumi goreng saos pedas, kakap tepung goreng saos asam
manis, daging sapi cah kailan, cap cay goreng, cap cay kuah, dah nasi putih serta
es teh. Enak, pastinya karena memang enak dan kebetulan kami lapar. Oya, di sana juga ada Mas Moeloes
dan mba Nani, Mas Doni beserta istri dan anaknya dan beberapa orang lagi.
Hari semakin sore. Setelah Mba Detta, Gabi, dan saya
menghabiskan chocolate moose andalan
toko you, kami pun kembali berjabat tangan, berpelukan, dan pamit pulang. Kami
sempat berfoto di depan gapura toko you. Lalu kami pun naik mobil. Mengarah ke Jakarta.
Falling slowly..
Kami naik ke mobil dan Yogi (yang gimbal, hehe)
memutar lagu. Sebuah lagu yang menjadi OST film Once yang dibintangi Glen Hansard dan Marketa Irglova. Ya, Falling Slowly. Serentak kami bernyanyi
bersama. Senang sekali rasanya. Tiba-tiba saya teringat akan seseorang yang
secara tidak sengaja mengenalkan saya akan film ini, orang yang sama dengan
orang yang tidak jadi datang ke paparan semalam. Ah.. entah apa rasanya. Begitu
hebohnya kami bernyanyi membuat Kang Dadang sang driver sedikit kebingungan.
Sebelum memasuki tol, kami mengisi bensin. Setelah itu
sesi mengisi TTS di koran pun dimulai. Ombus yang membacakan pertanyaan, dan
kami semua yang menjawab. Menyenangkan.
Sore itu matahari mulai terbenam. Jalanan tidak
terlalu macet, malah cenderung kosong. Semua pun mulai tertidur, kecuali Kang
Dadang tentunya. Sekitar pukul 7 kurang, mobil kami tiba di gerbang tol Pondok
Gede Timur, tempat di mana saya akan duluan turun untuk pulang. Mobil pun
menepi dan saya mengucapkan selamat tinggal pada teman-teman. Saya berjalan ke
pangkalan ojek dan kembali ke rumah.
Home
sweet home.
Saya berpelukan dengan orang tua saya. Lalu saya bercerita singkat tentang
perjalanan saya. Membereskan barang-barang bawaan saya lalu mandi, bersiap-siap
untuk beristirahat.
Saya kira Anyi benar 100%, bahwa pengalaman seperti
ini adalah sebuah pengalaman langka yang walaupun pada akhirnya menjadi sebuah
pengalaman yang sering dilakukan, tidak akan pernah terasa bosan dan akan terus
teringat dan terkenang, karena memang layak untuk diingat dan dikenang..
Saya bersyukur atas 3 hari yang indah, di mana saya
bisa merasakan menjadi bagian dari sesuatu yang besar dalam hidup saya.. atas
teman-teman dan saudara yang ada dalam hidup saya.
Semoga tidak lama lagi, saya akan mengalaminya lagi.





