TURTUKOJI 2008

June 13th, 2008 by timunkancil

TURTUKOJI
2008
(bagian pertama)

 

Jadi, pada akhirnya, saya
berhasil juga menyaksikan sebuah pagelaran musik akbar di tahun 2008 ini.
Bukan. Bukan konser dari sebuah band kenamaan asal Amerika atau Eropa, atau
band papan atas Indonesia. Ini sebuah pagelaran musik sebuah band indie asal Indonesia, yang oleh mereka yang
menggelarnya disebut sebagai Paparan Musikal. Ya!Paparan Musikal Cozy Street Corner. Cozy
Street Corner yang kali ini bekerja sama dengan WWF Indonesia dan Saung
Angklung Udjo, menggelar Paparan Musikal bertajuk “Senandung Warna Bumi”.
Penyelenggaraannya pada tanggal 7 Juni 2008 di Saung Angklung Udjo juga dalam
rangka memperingati hari lingkungan hidup sedunia yang jatuh pada tanggal 5 Juni 2008.

 

Dalam paparan musikal kali
ini, Cozy Street Corner membawakan 22 lagu dari campuran ketiga album mereka
(#1 repackage, nirmana, #3.3). CSC juga
berkolaborasi dengan Saung Angklung Udjo, Keroncong Asli Merah Putih, Bonita,
Kurtukoji, serta Sindu dan Patricia. Paduan warna musik Cozy Street Corner dengan
permainan angklung dan arumba pada lagu “S.B.U”, “Berlayar di Siang Hari”, dan
“Purna Sudah” menghasilkan sebuah atmosfer hangat dan bersahabat, menonjolkan
‘keindonesiaan’ musik itu sendiri. Ditambah lagi keapikan Keroncong Asli Merah
Putih yang sebelumnya juga telah tampil dalam Paparan Musikal Cozy Street
Corner 10 November 2007 di Jakarta, membuat para penikmat musik yang memenuhi
Saung Angklung malam itu terbuai oleh alunan keroncong a la Cozy Street Corner.
KMP mengiringi Kris (lead vocal, guitar)
pada lagu “Cemara Lilin” dan mengiringi Adoy (bass, vocal) pada lagu “Putri Ayu”. Selain itu KMP juga tampil
dengan lagu “Bandung Selatan di Waktu Malam”. Warna suara Bonita yang jernih
pada lagu “Penuh Dengan Cinta”, “What A
Day
”, dan “Gayung Bersambut (Apa Iya?)” berpadu dengan musik yang oleh Cozy
Street Corner sendiri tidak ingin dilabel sebagai salah satu aliran musik
tertentu saja. Selain itu tampilnya Kurtukoji (kelompok paduan suara dari STISI
Bandung) juga melengkapi komposisi musik Cozy Street Corner malam itu yang juga
didukung oleh additional artist, Agus
Leonardi (drums), Barata (percussions), dan Nelden Djakababa (soprano recorder). Yang tak kalah
menarik adalah kehadiran koreografi tari tradisional dari Sindu dan Patricia
pada lagu “Punyaku Sendiri” yang mengundang decak kagum kurang lebih 250 orang
yang hadir malam itu.

 

Seperti pada penampilan
yang sudah-sudah, Cozy Street Corner senantiasa berinteraksi dengan para
penontonnya. Pada beberapa lagu seperti “What A Day” dan “Dendang Bersahutan”,
Kris, Boby, dan Adoy mengajak para penonton untuk bernyanyi bersama, atau ya,
berdendang bersahutan dengan mereka. Di beberapa lagu seperti “Kira Di Dada”,
penonton secara spontan bertepuk tangan, bahkan tidak sedikit yang berdiri
bersama-sama dan berjoget mengikuti alunan musik pada lagu yang bernuansa agak
‘dangdut’ itu. Semuanya itu menjadi suguhan yang sangat memuaskan bagi semua
yang datang, bahkan menjadi kepuasan tersendiri bagi Cozy Street Corner.

 

Selain menikmati repertoir
musik, para penonton juga sempat diajak untuk menyimak sebuah flim dokumenter
dari WWF Indonesia yang berjudul “Turtle
Berau
”, yang pada kesempatan itu lebih memfokuskan kampanye mereka tentang
kelautan. Para penonton yang baru tiba juga diberikan kesempatan untuk
mengetahui sekilas tentang keadaan perairan / kelautan Indonesia serta keanekaragaman
hayati yang terkandung di dalamnya lewat brosur dan leaflet yang dibagikan.

 

Saung Angklung Udjo pun
tak kalah serunya mengajak para penonton untuk sejenak mengenal alat musik
bambu tradisional Sunda ini melalui workshop
singkat sebelum acara dimulai. Tiap penonton dibagikan masing-masing satu buah
angklung dengan nada berbeda-beda. Mereka diajari bagaimana cara membunyikannya
kemudian diajak untuk mengambil bagian dalam sebuah lagu yang sudah
dipersiapkan. Ternyata para penonton cepat belajar dan mengerti sehingga tak
kalah mantapnya memainkan angklung, walaupun mungkin tidak sehebat dan selancar
pemain angklung profesional. Hal lain yang ditawarkan oleh Saung Angklung Udjo
adalah berbagai cinderamata khas Saung Angklung yang dijual di toko cindera
mata yang memang harus dilalui penonton untuk menuju Balai Karasemen. Berbagai
ukuran angklung dan berbagai jenis pernak-pernik lainnya dengan harga cukup
terjangkau dapat diperoleh di toko ini.

 

Tak terasa, waktu pun
menunjukan pukul 10.15 malam, dan pertunjukan pun berakhir.Sungguh, sebuah
pengalaman yang tidak mudah dijelaskan dengan kata-kata dan akan sangat sulit
lekang dari ingatan. Pengalaman yang akan terus diputar ulang dalam benak beberapa
saat mendatang. Malam minggu itu menjadi malam minggu ketiga dalam hidup saya
yang saya rasa paling indah dan menakjubkan sehingga patut dikenang selamanya.
Dua malam minggu lainnya adalah hari Sabtu malam tanggal 28 Mei 2005 di Selasar
Sunaryo,Bandung pada saat Paparan Musikal
“Detak Nadi Musik Bumi” dan malam minggu kedua adalah Sabtu malam tanggal 10
November 2007 di Goethe Haus-Menteng, Jakarta pada saat Paparan Musikal “Save Our Music”.
Ya, ketiga malam minggu itu saat paling membahagiakan bagi saya, di mana saya
kembali mendapat pengalaman musikal yang luar biasa. Dan terima kasih kepada
Cozy Street Corner yang memberikan pengalaman tersebut kepada saya.


TURTUKOJI  2008 (bagian kedua)

 p e r j a l a n a n n y a (saya) . .
.

 Adapun
bagi saya, pengalaman ini tidak hanya pada saat acara Paparan Musikalnya
berlangsung. Semuanya dimulai dari keberangkatan saya dan teman-teman menuju Bandung. Kami berangkat
dari Jakarta sekitar pukul 9.30 malam setelah
Mba Detta (RDI), Gabi, dan saya dijemput di Plaza Indonesia. Mobil yang kami gunakan
adalah sebuah mobil sewaan bersama drivernya,
dengan jenis van berkapasitas 12
orang+1 (si bapak driver). Ya,
mereknya Pregio. Di barisan depan duduklah Kang Dadang sang driver dan Yogi (yang rambutnya gimbal)
yang malam itu menjadi music director
dalam perjalanan kami namun kemudian tertidur karena tiba-tiba si audio playernya ngadat. Di barisan kedua
duduklah Anyi (yang pada saat kami naik dari depan Hotel Grand Hyatt sudah
meringkuk bersama bantal kesayangannya), Mba Detta, dan saya. Di baris ketiga
ada Wiwit dan kekasihnya (halah), Imada, dan Gabi. Di baris terakhir ada Fara,
Sasha, dan Ombus. Total semuanya 11 orang, seperti sebuah kesebelasan sepak
bola. Kami sempat sama-sama bernyanyi sambil mendengarkan lagu “Rehab”-nya Amy Winehouse. Malam itu
kawasan Sudirman lumayan padat dan sedikit tersendat. Lepas dari sana kami memasuki Jl.
Jend. Gatot Subroto, melipir menghampiri pintu tol Semanggi 2. Lalu kami
kembali berjalan perlahan, ternsendat di jalan yang katanya ‘bebas hambatan’
itu.

 

Sekitar
pukul 10 malam kami baru tiba di pintu tol Pondok Gede Timur. Di sebelah kiri
tol, saya menoleh pada perumahan tempat tinggal saya. Ada sedikit rasa kuatir sebenarnya karena
malam sebelumnya hujan turun dengan deras sementara rumah orang tua saya itu
hanya beratapkan kain terpal setelah semua gentengnya dibuka untuk direnovasi.
Yang terjadi adalah kain terpal ternyata tidak terlalu sempurna menutup semua
permukaan atas rumah sehingga air hujan tetap membasahi plafon yang kemudian
memberat lalu roboh. Itu yang membuat saya kuatir malam itu. Tapi saya berdoa,
agar hujan tidak turun malam itu.

 
Para penumpang mobil yang sebelumnya cukup bersemangat untuk bernyanyi
bersama, nampaknya mulai kelelahan dan mulai tertidur. Saya beberapa kali
terjaga, melirik kang Dadang (loh, kok?) untuk melihat apakah dia baik-baik
saja atau mengantuk. Setelah memasuki tol Cipularang, hujan sempat turun, walau
tidak terlalu deras dan tidak terlalu lama. Sekitar pukul 12.15 dini hari,
mobil kami tiba di gerbang tol Pasteur. Rp. 37.000. Naik Rp. 2.500 dari RP.
34.500, terakhir kali saya ke Bandung Januari 2008 lalu. Teman-teman pun
terbangun.

 

Jadi
itulah Bandung
tengah malam. Indah dengan sejuta lampu di bukit-bukitnya, serta udara dingin
yang menyapa lembut. Ah, tiba-tiba saya merindukan seseorang yang sebelumnya
dikabarkan akan ikut mengambil bagian dalam paparan tetapi tiba-tiba tidak jadi
karena kesibukan pekerjaannya. Ah kecewanya.. Setibanya malam itu di Bandung, saya masih
sedikit berharap, paling tidak, walaupun dia tidak ikut bernyanyi, dia datang
untuk menyaksikan paparan tersebut. Toh dia tinggal di Bandung.. dan tempat kerjanya tak terlalu
jauh dari Saung Angklung Udjo di Jl. Padasuka..

 Seperti
yang barusan saya tulis, itulah Bandung
di waktu malam. Entah kenapa, rasa kagum saya terhadap kota Bandung dan Pulau Bali
tidak ada habis-habisnya. Saya selalu ingin ada di sana.. Hm.. walau kadang Jakarta
di waktu malam pun sebenarnya tidak kalah indahnya dibanding Bandung
dan Bali.


Kami
menyusuri jalanan yang melengang tengah malam itu. Menaiki fly over Pasopati (apa iya ya?) lalu menuju Jl. Padasuka. Kami
melambat meminggir ke sebelah kanan, berbelok menghadap sebuah gerbang tertutup
yang terbuat dari bambu. Sebuah spanduk besar tentang acara Paparan Musikal
sudah terpampang di depan gerbang. Gerbang pun dibuka dan mobil kami masuk.
Sambil mencari-cari letak guest house
tempat kami menginap, kami melihat-lihat sekitar. Tempat yang cukup luas dengan
pepohonan rindang dan bambu-bambu yang menaunginya. Kami turun di depan sebuah gues house yang lampu berandanya menyala
temaram. Di berandanya duduklah Kk Bonita, Mas Adoy, Om Kris, Kk Sylvie, Mba
Nelden, Om Barata, dan Ape. Sementara ketika pintu mobil dibuka, kami disambut
oleh Agus (Bhotax) dan Mas Do. Tak lama setelah itu mas Ibut muncul. Kami semua
lalu berhamburan keluar dari mobil, bersalaman, dan berpelukan. Udara dingin
yang mulai menyapa seperti menghangat oleh tawa dan senyuman kami. Guest house yang kami singgahi itu yang kemudian dipakai oleh Mas Adoy, Kk Boni,
Adik Pram, Mba Nelden, Yogi, Sasha, Ombus, Fara, Wiwit, dan Imada. Sementara
Mas Do, Om Barata, Om Kris, Kk Sylvie, Mas Ibut, Anyi, Ape, Bhotax, Mba Detta,
Gabi, dan saya menempati guest house
yang lainnya, yang tepat berada setelah gerbang masuk tadi.

 

Setelah
berjalan berjinjit sambil menahan nafas melihat Adik Pram yang sudah tertidur
tenang dan pulas di atas kasur, kami menuju guesthouse
di depan sambil membawa barang-barang kami. Guest
house
ini seperti sebuah rumah panggung yang bertingkat 2. Ada 2 kamar tidur di
lantai bawah, dan 1 kamar lagi di lantai atas. Di lantai bawah juga ada ruang
tamu yang juga bisa digunakan untuk tidur, serta sebuah ruang kecil dengan meja
makannya. Di lantai atas pun ada sebuah ruang tamu kecil di depan kamar yang
juga bisa dipakai sebagai tempat tidur. Di lantai bawah ada 2 kamar mandi yang
dirancang sedemikian rupa sehingga bernuansa alami, dengan tambahan
potongan-potongan bambu sebagai pintu, ujung shower, dan alas kaki di bawah
pancuran, serta tentunya, air panas yang senantiasa menemani, 24 jam non stop.

 

Mba
Detta, Gabi, dan saya menempati 1 kamar di bawah. Sebagian bangunan ini
dibangun dengan tembok (semen) dan beberapa bagian lainnya terbuat dari anyaman
bambu. Lantainya terbuat dari papan kayu. Tangga kayu di depan pintu menjadi
tempat yang menyenangkan untuk duduk-duduk bersama sambil berbincang atau
sekedar merokok menghalau udara dingin. Tapi malam itu sudah terlalu larut
sehingga teman-teman memilih untuk berbaring meringkuk di bawah selimut, beristirahat,
mengingat bahwa dalam beberapa jam ke depan mereka akan tampil dengan kurang
lebih 2 lusin lagu. Gabi dan saya sedikit penasaran seperti apa tempat
manggungnya, jadi kami berdua berjalan menuju Balai Karasemen. Bentuknya bisa
dibilang seperti amphitheatre, mirip
dengan Selasar Sunaryo. Hanya saja lebih luas dan posisi panggungnya lebih ke
tengah. Beberapa orang terlihat sedang membereskan alat-alat dan sound system, entah baru selesai dipakai
malam jumat itu atau untuk keperluan paparan.

 

Kami pun
kembali ke kamar. Mencuci muka dan kaki, mengganti celana tidur. Bantal dan
kasur kami kibaskan dari nyamuk-nyamuk yang sudah pingsan atau mungkin mati,
ketika tiba-tiba lemari baju di dalam kamar terbuka sendiri. Gabi dan saya
sempat saling berpandangan lalu kemudian berhamburan ke luar kamar, namun masuk
lagi sambil menyapa, “Permisi…”. Kami berdoa memohon perlindungan sebelum
tidur, agar diberikan istirahat yang cukup. Kami menyetel alarm di jam dan handphone, jam 07.00 pagi. Belum sempat
tertidur, Anyi masuk ke kamar kami dan menawarkan untuk bersama-sama mencari
makanan. Lapar. Saat itu sudah sekitar jam 2 kurang. “Paling-paling nasi
gorenglah..”.

 

Dengan
pedenya, Gabi dan saya yang sudah bercelana tidur berjalan meninggalkan kamar.
Di luar guest house ada Wiwit, Imada,
Mas Ibut, dan.. ah, saya lupa. Aneh dan lucu rasanya menyusuri Jl. Padasuka di
pagi buta itu. Beberapa kendaraan masih berlalu lalang dan kami berjalan
menepi. Tibalah kami di depan gerobak penjual nasi goreng. Di belakangnya ada
beberapa orang bapak yang sudah mengantri sebelum kami. Saat akan memesan, si
bapak bilang, nasinya hanya cukup untuk 3 porsi lagi, dan itu termasuk untuk
bapak-bapak yang sudah antri. Kami pun terpaksa pergi lagi, kembali ke Saung
Udjo. Beberapa teman, Anyi, Mas Ibut, Ape, Imada dan Wiwit, (sepertinya)…
naik mobil Ape menuruni Jl. Padasuka, sementara Gabi dan saya hanya memesan
sebungkus nasi goreng untuk berdua. Kami memilih untuk duduk di bangku kayu
yang menempel di dinding luar daripada masuk dan berlalu lalang di ruang tamu
sementara Bhotax sudah lelap tertidur di sana.
Bangku yang kami duduki itu agak tinggi letaknya sehingga kaki kami bisa
diayun-ayunkan sambil kami bernyanyi perlahan. Udara pun semakin dingin dan
kami mulai mengantuk, oya, juga kelaparan. Dan nasi goreng pun tak kunjung
tiba.

 

n a s i g o r e n g t a k b e r s e n d o k  tiba . . .

Saat itu
sekitar pukul 2.35 pagi hari, sesaat sebelum saya sempat mengirimkan pesan
singkat kepada Anyi untuk menanyakan keberadaan mereka, sebuah mobil putih
memasuki pintu gerbang dan kami berteriak pelan, “Hore..!”. Makanan pun tiba.
Anyi dan mas Ibut turun membawa sebungkus nasi goreng. Panas. Kami segera
membukanya. Harum. Dengan beberapa lembar kerupuk. Tanpa sendok. Tanpa pikir
panjang, setelah mengucap doa, kami pun menyantap nasi goreng itu dengan
bersendokkan beberapa lembar kerupuk. Rasanya mungkin tidak luar biasa lezat,
tapi karena kami lapar dan kedinginan, rasanya jadi sangat enak. Gabi sempat
bertanya, “Tas, kalau kerupuknya habis gimana?”. Saya tidak menjawab, tapi
langsung menyuap nasi goreng dengan jari-jari saya. “Makan nasi apa aja gw dah
pernah, Tas, pake tangan, kaya’ nasi padang,
tapi kalo nasi goreng, wah, ini pertama kali mungkin..”, kata Gabi. Kemudian
Gabi menyusul saya. Jadi, itulah pengalaman pertama kami makan nasi goreng jam
3 pagi di Bandung,
dengan tangan, bukan dengan sendok. Ada
perasaan lucu ingin tertawa terbahak, tapi takut tersedak nasi goreng yang
tidak hanya panas, tapi juga pedas itu.

 

Selesai
makan, kami mencuci tangan di dalam, mengambil air mineral gelas, dan masuk ke
kamar. Mba Detta ternyata sudah ada di balik selimut. Kami pun mengendap-endap
naik ke atas kasur, takut membangunkan. Ternyata mba Detta belum tidur. Lalu
kami berbincang tidak keruan, entah membicarakan apa hingga akhirnya saya
tiba-tiba berkata, “Tuhan, kasih saya pacar yang baik dong, yang pengertian dan
tidak macam-macam.. tidak usah harus besok langsung datang, tapi kalau boleh,
jangan terlalu lama juga ya..”. Lalu tiba-tiba Gabi menyahut, “Gabi juga ya,
Tuhan..”. Spontan mba Detta tertawa
terbahak dan merasa perkataan kami lucu bukan main sampai-sampai tidak bisa
berhenti tertawa dan kami kuatir itu akan membangunkan teman-teman yang lain.
Akhirnya kami merasa benar-benar lelah, mengantuk, dan harus beristirahat.

 

mie instan rebus, tahu sumedang, dan
cover #1 repackage

Saat
alarm jam saya maupun hpnya Gabi berbunyi pukul 07.00 pagi itu, kami sama
sekali tidak berkutik dari kasur kami. Baru setelah Anyi masuk ke kamar kami
dengan wajah segar sehabis mandi, kami mulai menggeliat dan merenggangkan
badan. Pagi itu dibuka dengan gosip-gosip ringan yang kemudian menjadi gosip
hangat hingga tak disangka, di malam harinya menjadi kejadian besar yang
menghebohkan banyak sekali orang. Gosip ringan tentang seseorang (atau lebih)
yang berambisi dan berobsesi sangat besar namun tidak bisa melakukan apa-apa. No action, talk only. Ya, itulah dia
(mereka). NATO. Setelah itu orang-orang mulai berdatangan ke guest house kami, termasuk Mas Adoy, Kk
Boni, dan Adik Pram. Si Adik Pram itu lucu sekali. Dengan mata besarnya yang
jernih dan seakan enggan berkedip itu dia mencermati setiap orang baru yang
dilihatnya. Mulutnya ternganga sekan takjub akan banyaknya orang di sekitarnya,
hingga Adik Pram pun meneteskan air liurnya. :) Semuanya itu menjadi pemandangan begitu menghibur di pagi hari,
membangkitkan semangat untuk mulai beraktivitas. Sementara itu teman-teman yang
lain asik berbincang di luar. Beberapa mengepulkan asap rokok dari mulut
mereka. Gabi dan saya pun mulai mempersiapkan pekerjaan pemotongan cover kaset #1 repackage. Ada
sekitar 24 kaset yang overnya mesti
kami potong karena baru dicetak beberapa hari lalu. Tapi Gabi mau mandi pagi
dulu. Jadi saya memulai memotong dan mencoba melipatnya seperti yang dicontohkan
Mas Ibut tadi malam. Beberapa teman menawarkan untuk memesan mie instan di
warung sebelah untuk sarapan pagi. Saya memesan 2 mie rebus, 1 untuk saya dan 1
lagi untuk Gabi. Setelah Gabi selesai mandi, mie rebus panas dan telur pun siap
disantap. Kami menikmatinya sambil kembali berkata, “Kenapa ya mie buatan orang
itu pasti lebih enak daripada yang kita buat sendiri?”. Anyi pun ikut bergabung
disusul Mas Ibut yang tiba-tiba membawa sepiring tahu sumedang yang baru
diangkat dari penggorengan. Panas. Harum. Garing. Lezat! Ya! Bagian luar
tahunya garing dan bagian dalamnya lembut dan berongga seperti tahu sumedang
pada umumnya. Entahlah, rasanya dengan mie rebus itu (plus cabe rawit) seperti
perpaduan yang luar biasa nikmat (berlebihan, karena lapar). Setelah selesai
sarapan yang sedikit dibumbui sesi gosip lanjutan, kami pun kembali bekerja.
Selesai dengan kegiatan memotong dan melipat cover pun saya segera mandi (dengan air panas, tentunya) karena
orang-orang mulai membantu mengangkat alat-alat menuju Balai Karasemen untuk
kegiatan set alat sekalian cek sound.
Gabi dan saya menyusul ke sana setelah kami mengunci semua pintu.

 

Apa yang
saya lihat segera membuat saya merinding. Bukan karena ketakutan atau
kedinginan, tapi karena membayangkan betapa akan hebat luar biasanya (tidak
berlebihan , loh…) acara nanti malam. Lagu dari MP3 cozy street corner pun
diputar sambil Bhotax mulai menyetel drum
set
nya. Gabi dan saya sempat berjalan-jalan ke bagian lain dari Saung
Angklung. Sebuah taman di sebelah Balai Karasemen dengan saung-saung kecil yang
dinaungi pohon-pohon dan tanaman bambu. Keren! Kami lalu kembali duduk manis di
deretan kursi, memandangi 5 orang yang sedang mondar-mandor memperhatikan
susunan alat di panggung. Gabi dan saya, entah kenapa, tidak berhenti berdecak
kagum. Lalu beberapa orang datang duduk bergerombol, orang-orang yang kemudian
kami kenali sebagai Kurtukoji, anak-anak STISI Bandung yang akan menjadi choir pengiring paparan nanti. Dan pupus
sudah harapan saya akan bertemu orang itu, karena dia tidak ada di antara
orang-orang tersebut, ditambah sebuah pesan singkat dari dia yang mengatakan
dia tak akan sempat datang karena banyaknya tugas yang harus segera
diselesaikan. Hhhh.. tapi ya sudahlah, saya kembali teringat tujuan utama saya
ke Bandung adalah untuk bersenang-senang mengikuti Paparan Musikal. Ada atau tidak adanya orang itu hanya akan
menjadi bonus atau tambahan saja. Mestinya tidak mempengaruhi kesenangan saya.
Mestinya.

 

Tak
terasa waktu sudah pukul 12 siang. Merasa lapar, Gabi dan saya membeli es krim
yang dijual di toko cinderamata. Walaupun sebenarnya saya sedang flu, saya tetap ingin memakannya. Lalu
kami melihat kk Sylvie mulai mengangkat makanan-makanan kotak yang akan
dibagikan kepada pendukung acara yang ada di sekitar Balai Karasemen. Kami pun
membantu. Setelah itu kami kembali ke guest
house
untuk makan. Nasi timbel (yang pastinya dibungkus daun pisang),
sepotong ayam goreng, tahu,tempe,
dan sepotong kecil ikan jambal goreng (yang pastinya asinlah..), dan sayur
lalap beserta sambelnya. Kami lapar dan rasanya enak. Selesai makan saya
memesan es teh manis di warung sebelah. Lalu Gabi dan saya membantu Anyi
menghitung tiket undangan dan tiket pesanan. Selepas itu kami menuju Balai
Karasemen, menyaksikan sebuah band yang sedang melakukan sound check, ya, Cozy Street Corner. Entah itu termasuk gladi
bersih atau tidak karena memang agak singkat mengingat pukul 4 sore Balai
Karasemen harus bersih karena akan digunakan untuk pertunjukan rutin tiap sore.
Alat-alat harus diungsikan terlebih dahulu. Setelah itu kami semua kembali ke guest house. Kali ini hampir semua orang
berkumpul di guest house kami. Ada yang duduk-duduk di
tangga luar, di bawah pohon, di bangku kayu yang menempel di dinding luar, dan
di dalam guest house. Sementara Gabi
dan saya memilih duduk di bangku kayu tempat kami makan nasi goreng tadi subuh.
Menyaksikan Om Kris, Mas Adoy, Mas Do, Om Barata, dan Bhotax duduk di bawah
pohon sambil tertawa dan berbincang-bincang. Sesekali mereka terlihat
membicarakan tentang lagu yang akan mereka mainkan. Setelah mas Adoy meminta
Gabi membelikan the botol, mas Do memesan es kelapa muda yang kemudian membuat
kami tergiur. Gabi dan saya pun ikut-ikutan memesan. Segar. Enak. Padahal es
kelapa muda selayaknya minuman yang diminum di tepi pantai di kala hari panas,
tapi tak ada juga yang melarang meminum es kelapa muda di Bandung yang dingin ini. Jadi kami
meminumnya. Kami cukup lama duduk di sana
sambil menantikan pukul 3.30, waktunya untuk briefing acara. Jam 4 pun tiba dan kami masih santai-santai duduk
di sana.
Setelah itu barulah kami masuk ke dalam guest
house
untuk bersiap-siap. Anyi, Mas Ibut, dan Mas Moeloes memberikan
penjelasan singkat tentang posisi ticket
box
, meja penjualan kaset dan pin, serta posisi yang akan menyobek tiket
dan memberikan buku tamu. Gabi masih sempat pergi mandi, sementara saya hanya
mencuci muka dan berganti baju, lalu menyusul Anyi menuju ticket box.

 

 

t h
e s h o w t i m e . . .

Kami
sempat membagikan beberapa flyer
acara paparan kepada pengunjung yang baru saja selesai menyaksikan pertunjukan
rutin angklung. Akhirnya Gabi yang menjaga meja penjualan kaset ditempatkan
tepat di ujung toko cinderamata yang berbatasan dengan tangga menuju Balai
Karasemen. Sementara Anyi dan Endang menjaga ticket box serta Mba Nani (istri mas Moeloes yang tengah mengandung
4,5 bulan) memeriksa tiket masuk dan membagikan buku tamu.

 

Baru
sekitar pukul 7 malam orang ramai berdatangan. Banyak juga ternyata yang baru
membeli tiket malam itu di samping orang-orang yang sudah sebelumnya memesan
tau membelinya dari commonroom yang menjadi tempat penjualan tiket early bird, serta orang-orang dengan
tiket undangan dan teman-teman dari media. Pertunjukan yang sedianya dimulai
pukul 6.30 sore dengan pemutaran film Turtle Berau itu agak sedikit molor, dan
Balai Karasemen perlahan mulai penuh. Sekitar pukul 7.30 Cozy Street Corner
mulai beraksi. Belum pernah saya menyaksikan mereka tampil sambil berdiri
(hampir selalu dengan duduk di kursi). Tapi malam itu mereka terlihat begitu lain
dan k.e.r.e.n. Entah saya yang norak atau memang pemandangannya begitu. Mereka
keren. Potongan tiket yang kami kumpulkan mulai kami hitung jumlahnya. Hingga
akhir acara terkumpul sebanyak 160 potongan tiket. Sementara orang-orang tanpa
tiket yang masuk, seperti media dan undangan dari Saung Angklung Udjo dan
panitia yang kemudian melengkapi angka kurang lebih 250 penonton malam itu.

 

Memang, Anyi, Endang, Mba Nani, saya, kk Sylvie, Gabi
dan beberapa panitia lain mungkin tidak bisa mengikuti acara dari awal karena
ada tugas yang harus kami kerjakan. Tapi karena acara pun agak sedikit molor,
kami pun ternyata tidak ketinggalan terlalu banyak. Kami selesai bertugas dan
bisa duduk di deretan penonton mendengarkan lagu ke 11 di sesi kedua. Masih ada
sekitar 11 lagu lagi yang bisa kami nikmati sampai puas. Dan memang, kami puas.
Kami bernyanyi bersama, tertawa, dan berjoget. Beberapa teman yang datang dari Jakarta juga ikut
bersama-sama dengan kami bernyanyi dan bergoyang. Bahkan pada lagu Dendang Bersahutan yang disambung dengan lagu Kira Di Dada, saya yakin, tak hanya kami
yang tidak mampu menahan untuk bergoyang, tapi seisi Balai Karasemen pun ingin
bergoyang, hanya saja mungkin beberapa tidak segila kami. Hehehe.

 

Tidak terasa, sampai juga di lagu Farewell
So Long
yang diikuti lagu Mari Pulang, lagu yang kemudian
mengakhiri Paparan Musikal Cozy Street Corner malam itu. Waktu sudah
menunjukkan pukul 10.15 malam. Lewat sekitar 15 menit dari waktu yang diberikan
oleh pihak Saung Udjo untuk menyelenggarakan acara malam itu. Tapi tak menjadi
masalah. Orang-orang yang mulai beranjak berdiri, berjalan pulang dengan wajah
berseri. Puas dengan suguhan yang baru saja mereka nikmati. Beberapa sempat
mampir untuk membeli kaset, cd, atau beberapa pin. 6 buah CD #3.3 from the corner yang kami bawa, habis
terjual. 

 

Betapa puas dan senangnya kami malam itu. Tidak hanya
para pendukung acara, tapi juga Cozy Street Corner sendiri, walau sebenarnya
masih ada satu hal tersisa yang harus diselesaikan malam itu. Sebuah masalah
besar yang sempat membuat hati panas. Tapi entahlah bagaimana caranya, sehingga
masalah tersebut bisa diselesaikan dengan orang yang
bersangkutan tanpa seorang pun yang terluka. Tidak. Tidak ada kekerasan fisik
yang terjadi. Hanya ketajaman dan ketegasan kata-kata, yang mungkin bisa
dibilang menjadi evaluasi bagi orang-orang yang mengambil bagian dalam
persiapan paparan kali ini.

 

Semuanya sudah selesai. Semuanya senang. Puas. Kami
pun membantu membawa barang-barang dan alat-alat dari Balai Karasemen dan
menyimpannya di guest house. Di sana sudah berkumpul
banyak teman-teman dan para pendukung acara. Ucapan selamat, jabat tangan, dan
rangkulan hangat berdatangan dari mana-mana untuk siapa-siapa, terutama untuk
Cozy Street Corner yang tampil sempurna malam itu.

 

Badan yang lelah dan perut yang sebenarnya sudah
lumayan lapar seperti terlupakan sejenak oleh momen istimewa yang kami saksikan
malam itu. Keramahan dan rasa kekeluargaan di antara kami semua membuat saya
kembali memikirkan perbincangan Anyi dan saya beberapa hari lalu lewat telepon.
Kami berbicara tentang mengapa orang ingin selalu kembali menyaksikan Cozy
Street Corner tanpa ada rasa bosan atau muak. Paling tidak alasan mengapa kami,
Anyi dan saya, dan teman-teman yang lain, tetap setia menyaksikan mereka.
Bahkan sampai kami hafal hampir semua lirik lagu-lagu mereka. Anyi sempat
berkata, gw yakin, bahwa 1 atau 2 hari
setelah lo nonton paparan, lo akan kembali teringat dan berkata gila, 2 hari yang lalu gw
baru nonton paparan,
dan gw yakin itu masih akan terus diputar dalam pikiran lo di hari-hari
seterusnya.. (maaf Nyi, ga sama persis
dengan yang lo ucapin, tapi intinya gitukan?).
Dan walau baru sekitar 1 jam berlalu, ketika Gabi, Endang, dan saya berbaring
sejenak di kamar kami, saya memikirkannya. Saya baru saja menyaksikan semuanya
itu!

 

Sebenarnya ada sedikit penyesalan karena saya tidak
bisa merekam atau mengabadikan momen itu dengan handycam atau digital camera
seperti yang saya lakukan pada saat paparan bulan november lalu di Goethe Haus
Menteng. Tapi malam itu juga saya merasa ingin sekali sekedar menikmati tanpa
sibuk mencari posisi yang tepat untuk merekam atau mencari setingan lighting agar gambar yang saya rekam
tidak gelap. Saya yakin, gambar-gambar yang berhasil diabadikan Mba Detta akan
mengobati penyesalan saya, bukan begitu mba Detta?

 

Malam semakin larut dan teman-teman pun mulai
berpamitan. Ketika itu sudah sekitar pukul 11.30 malam dan perut kami mulai
terasa lapar. Kami mencari-cari di mana tersedia makanan yang mungkin masih
tersisa untuk kami. Tapi ternyata memang tidak ada. Jadi, beberapa teman
mengajak untuk mencari nasi goreng (lagi). Om Barata, Ombus, Imada, Wiwit, Mba
Nelden, Mas Do, Gabi dan saya pun berjalan menuruni Jl. Padasuka. Kami mencari
tukan nasi goreng dan memastika bahwa porsinya kali ini cukup. Kami rencananya
akan membungkus nasi goreng tersebut, tapi karena ternyata tersedia bangku di sana, maka akhirnya kami memakan nasi goreng pesanan kami
langsung di sana.


Rasanya memang tidak selezat nasi goreng yang Gabi dan
saya makan dengan tangan itu, tapi ya sudahlah, kami lapar. Ternyata mas Do
tidak ikut memesan nasi goreng dan lebih dahulu kembali ke Saung Angklung.
Dalam perjalanan pulang, kami baru tahu kalau ternyata Mas Do sering sakit
maag-nya. Gabi mengatakan bahwa susu putih itu cukup manjur untuk mengurangi
sakit maag. Ombus tiba-tiba bertanya, apakah susu seperti susu ultra cukup
baik, karena dikemas dalam kotak dan mungkin saja mengadung pengawet yang
banyak karena biasanya tahan dalam waktu yang lama. Apakah sama sterilnya
dengan susu sapi murni. Kami pun membahas bahwa sebelum dikemas, susu kotak
sudah melalui proses sterilisasi sehingga tahan untuk waktu lama tanpa
menggunakan zat pengawet. Sama halnya dengan susu sapi yang masih di dalam
tubuh sapi. Kata Gabi, iya,
sama aja dengan susu sapi kan masih diperutnya. Lalu saya spontan
mengatakan bahwa susu sapi bukan di perut sapi. Lalu di mana? tanya Ombus. Di dadanya jawab saya polos. Kami lalu
terdiam dan membayangkan, memangnya sapi punya dada? Kami pun tertawa geli
terbahak, merasa bodoh membahas di mana susu sapi berada.

 

Setibanya di Saung Udjo, kami kembali ke guest house. Di sana ramai berkumpul banyak orang. Sedang
membahas perihal evaluasi mendadak terhadap seorang
yang membantu persiapan paparan tersebut. Dengan seru pun kami mendengarkan dan
sesekali ikut berkomentar. Malam pun semakin malam dan saya sudah begitu
mengantuk. Orang-orang akan menuju guest
house
satu lagi tempat mereka akan menghabiskan sisa malam yang indah ini.
Gabi dan saya memilih untuk merebahkan badan kami di atas kasur. Dan kami pun
bersiap untuk tidur.

 

 

rangginang and walls magnum classic for breakfast, please..

Minggu pagi kami terbangun karena Anyi kembali
membangunkan kami. Rasanya kami semalam baru saja bermimpi indah sekali. Tapi
ternyata itu bukan mimpi, karena semalam kami memang benar-benar mengalaminya.
Kami pun mulai berdiri dan mengintip ke luar kamar. Rasanya agak enggan untuk
segera pulang ke Jakarta..
masih ingin lebih lama lagi menikmati suasana ini..

 

Saat itu sudah sekitar pukul 8.30 pagi. Kami mulai
mencari-cari sarapan, sayangnya warung di sebelah guest house kami ternyata tutup di hari minggu. Untuk menunda
sarapan, kami pun memutuskan untuk melihat-lihat hasil jepretan mba Detta
semalam. WOW! Bagus-bagus. Keren. Tak puas hanya melihat melalui kameranya, filenya pun dipindahkan ke laptop Mas Do
sehingga bisa lebih jelas kami saksikan. Pagi itu ada Mas Adoy, Mas Do, Bhotax,
Mas Ibut, Mba Detta, Gabi, dan saya yang duduk asik menonton foto-foto itu.
Tiba-tiba saya mengajak Gabi untuk membeli es krim (lagi) di toko cinderamata.
Kali ini mas Adoy dan mas Do menitip Walls Magnum Classic. Wah. Saya pun tergiur dan kami
membelinya, ditambah sebungkus kerupuk nasi, rangginang (apa rengginang ya?).

 

Sekembalinya dari sana, kami segera menyantap es krim tersebut.
Om Kris pun bergabung dan mencicip. Lalu terlihatlah rangginang itu. Wah, ini adalah salah satu
penganan kesukaan gw. Bagi ya? kata Om Kris. Kami pun penasaran dan memakannya.
Ternyata enak. Lalu Gabi dan saya pergi lagi untuk membeli 2 bungkus rangginang
lagi. Dan pagi itu kami sarapan es krim dan rangginang. Enak.

 

Siang pun mulai turun dan kami rasa sudah waktunya
kami untuk siap-siap dan berkemas, mengingat bahwa kami harus kembali ke Jakarta dan mengembalikan
mobil sewaan kami. Kami mandi, membereskan kamar, membuang sampah-sampah dan
merapikan kembali guest house yang
nyaris seperti kapal pecah itu.

 

Waktunya pun tiba, sekitar pukul 3 sore, kami
memasukkan barang-barang ke mobil dan bersiap pergi meninggalkan Saung
Angklung. Setelah sebelumnya berjabat tangan dan berpelukan dengan orang-orang
yang tidak akan ikut bersama kami makan siang di Toko You di dekat Dago. Om
Kris dan kk Sylvie naik mobil terpisah. Sementara Bhotax dan Ape sepertinya
akan langsung ke Jakarta.
Kk Boni dan Mas Adoy masih harus menjemput Adik Pram yang semalam dititipkan.
Mas Do, Anyi, Mas Ibut, Mba Nelden serta alat-alat ada di mobil kijang.
Sementara penumpang Pregio tetap berjumlah 11 orang, walau kali ini Anyi
digantikan oleh Om Barata.

 

Kami pun menuju Toko You untuk bersantap siang di sore
itu. Tiba di sana,
kami mulai memesan. Cumi goreng saos pedas, kakap tepung goreng saos asam
manis, daging sapi cah kailan, cap cay goreng, cap cay kuah, dah nasi putih serta
es teh. Enak, pastinya karena memang enak dan kebetulan kami lapar. Oya, di sana juga ada Mas Moeloes
dan mba Nani, Mas Doni beserta istri dan anaknya dan beberapa orang lagi.

 

Hari semakin sore. Setelah Mba Detta, Gabi, dan saya
menghabiskan chocolate moose andalan
toko you, kami pun kembali berjabat tangan, berpelukan, dan pamit pulang. Kami
sempat berfoto di depan gapura toko you. Lalu kami pun naik mobil. Mengarah ke Jakarta.

 

Falling slowly..

Kami naik ke mobil dan Yogi (yang gimbal, hehe)
memutar lagu. Sebuah lagu yang menjadi OST film Once yang dibintangi Glen Hansard dan Marketa Irglova. Ya, Falling Slowly. Serentak kami bernyanyi
bersama. Senang sekali rasanya. Tiba-tiba saya teringat akan seseorang yang
secara tidak sengaja mengenalkan saya akan film ini, orang yang sama dengan
orang yang tidak jadi datang ke paparan semalam. Ah.. entah apa rasanya. Begitu
hebohnya kami bernyanyi membuat Kang Dadang sang driver sedikit kebingungan.

 

Sebelum memasuki tol, kami mengisi bensin. Setelah itu
sesi mengisi TTS di koran pun dimulai. Ombus yang membacakan pertanyaan, dan
kami semua yang menjawab. Menyenangkan.

 

Sore itu matahari mulai terbenam. Jalanan tidak
terlalu macet, malah cenderung kosong. Semua pun mulai tertidur, kecuali Kang
Dadang tentunya. Sekitar pukul 7 kurang, mobil kami tiba di gerbang tol Pondok
Gede Timur, tempat di mana saya akan duluan turun untuk pulang. Mobil pun
menepi dan saya mengucapkan selamat tinggal pada teman-teman. Saya berjalan ke
pangkalan ojek dan kembali ke rumah.

 

Home
sweet home.

Saya berpelukan dengan orang tua saya. Lalu saya bercerita singkat tentang
perjalanan saya. Membereskan barang-barang bawaan saya lalu mandi, bersiap-siap
untuk beristirahat.

 

Saya kira Anyi benar 100%, bahwa pengalaman seperti
ini adalah sebuah pengalaman langka yang walaupun pada akhirnya menjadi sebuah
pengalaman yang sering dilakukan, tidak akan pernah terasa bosan dan akan terus
teringat dan terkenang, karena memang layak untuk diingat dan dikenang..

 

Saya bersyukur atas 3 hari yang indah, di mana saya
bisa merasakan menjadi bagian dari sesuatu yang besar dalam hidup saya.. atas
teman-teman dan saudara yang ada dalam hidup saya.

 

Semoga tidak lama lagi, saya akan mengalaminya lagi. :)

 

 

 

 

 

 

*hmm*

April 13th, 2008 by timunkancil

Untitled_1

“ kadang-kadang yang dibutuhkan hanya menerima keadaan dan mengambil sisi positif dari kejadian-kejadian.. berdamai dengan manusia, berdamai dengan diri, berdamai dengan rasa..”

Zaldi Hamdani,

12 April 2008

,

2:08 am

tulisan ini ingin bercerita tentang apa itu ada, kehadiran, presensi, juga tentang kepergian, kehilangan, dan ketiadaan.. tentang harapan dan pilihan..

jumat,

11 april 2008

, saya bercerita dengan seorang teman baik, tentang bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang pernah begitu hadir di hari-hari saya belakangan. jujur saya katakan rasanya sakit, seperti yang sebelumnya pernah saya tulis. rasa sakitnya tetap saja terasa sakit walau sebelum-sebelumnya pun saya pernah merasa sakit. tapi ternyata rasa sakit itu tidak pernah berkurang rasanya, walaupun berkali-kali sudah kita mengalaminya. sakit akan tetap terasa sakit. tidak ada istilah kebal, atau mati rasa.

saya bercerita tentang bagaimana saya ‘merayakan’ rasa sakit. terkadang ada kalanya saya butuh waktu berhari-hari untuk bisa merasa lebih baik, tapi pernah juga saya berhasil ‘merayakannya’ hanya dalam satu malam. saya tumpahkan saja semuanya. iya. saya menangis. saya biarkan semuanya mengalir. membasahi bantal dan selimut serta baju saya.. saya biarkan begitu saja. bila sesekali saya harus terisak-isak atau bahkan berteriak, saya lakukan. belakangan saya merasa tidak ingin berlama-lama merayakan kesedihan tersebut walau itu bukan berarti saya akan segera bangkit dan ‘berakting’ seakan-akan saya sama sekali tidak kenapa-kenapa. hanya saja, kadang rasa sakit itu butuh waktu untuk benar-benar sembuh.. untuk berhenti.

Jelang_bnam_matahari

teman baik saya berkata bahwa, kita tidak pernah bisa benar-benar melupakan seseorang yang pernah hadir dalam hidup kita. sekuat apa pun usaha kita untuk menghapus orang tersebut dari hidup kita, kita tidak akan pernah bisa benar-benar berhasil. dia juga mengatakan bahwa orang-orang datang dan pergi dalam hidup kita. keberadaan orang itu dalam hidup kita, seburuk apapun kenangan kita tentang itu, atau seindah apapun, akan tetap tersisa dalam diri kita. ini soal pilihan. ketika kita mengijinkan orang tersebut untuk masuk dalam hidup kita, artinya kita memilih untuk membiarkan orang itu untuk meninggalkan kesan dalam hidup kita, terlepas baik atau buruk kesan yang akan ditinggalkan. buruk sekalipun, tidak akan selamanya menjadi pengalaman buruk dalam hidup kita. karena seburuk apapun yang terjadi, pasti ada hal baik yang bisa diambil dari kejadian tersebut. sehingga, kalau dipikir-pikir, seburuk apapun kesan yang ditinggalkan seseorang dalam hidup kita, pasti ada hal baik yang bisa kita ambil dari keberadaan orang tersebut dalam hidup kita.

mungkin itu sebabnya kita tidak akan pernah bisa benar-benar menghapus seseorang dari dalam hidup kita, bahkan orang yang secara fisik sudah tidak ada lagi, meninggal, itu kata teman baik saya.

bicara tentang rasa sakit yang saya rasakan, mungkin lebih tepatnya dikatakan sebagai rasa kekecewaan yang begitu mendalam, disebabkan tidak sesuainya kenyataan yang saya temukan dari harapan yang saya bangun. ketika semuanya terjadi, rasa kecewa itu benar-benar terasa kemudian terakumulasi menjadi rasa sakit dan sedih yang mendalam..

tapi kembali pada apa yang disebut pengalaman. walau tadi saya katakan bahwa rasa sakit tidak mengenal kata kebal atau mati rasa, tapi mestinya dari apa yang pernah saya alami sebelumnya, saya bisa belajar untuk mengingat bagaimana caranya untuk merayakan kesedihan juga mengingat bagaimana caranya untuk perlahan-lahan bangkit lagi, walau harus melata terlebih dahulu J

mestinya saya tau banyak tentang bagaimana cara untuk menjadi tegar. toh saya pernah mempelajari dan memperdalam pemahaman saya tentang bagaimana orang yang mengalami tragedi atau kejadian traumatis dalam hidupnya untuk bisa bangkit dan kembali menemukan makna hidupnya. semuanya tentang pilihan. itu sebabnya Tuhan memberikan akal budi pada manusia, agar manusia belajar untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk. menurut yang dulu saya pelajari, bahwa menjadi orang yang kehilangan harapan, semangat, dan makna yang disebabkan oleh suatu peristiwa, adalah pilihan. ketika manusia diperhadapkan pada suatu masa dalam hidupnya, di mana ia mengalami suatu kejadian, baik atau buruk kejadian tersebut, adalah pilihan orang tersebut untuk menentukan bagaimana kemudian ia akan bersikap. apakah setelah kejadian tersebut ia akan memilih untuk terus tenggelam di dalam masa-masa yang sulit, atau memilih untuk mencoba bangkit kembali. itu pilihan. walaupun untuk bangkit pastinya dan sudah barang tentu dibutuhkan hal-hal yang bisa membantu orang tersebut beranjak tegar dari kejadian yang dialami. hal-hal itu bisa macam-macam. kehadiran orang-orang lain yang memberikan dukungan psikologis yang positif atau bahkan kejadian-kejadian yang kembali membangkitkan harapan dan semangat dalam hidupnya.

Dsc01136satu-satunya cara untuk bisa melewati masa-masa sulit itu adalah menghadapinya. dan bukan lari. saya tidak mengatakan bahwa berusaha melupakan atau menghapus kenangan apapun tentang sesuatu atau seseorang disebut sebagai pelarian. kadang itu menjadi cara tercepat untuk terlihat baik-baik walau mungkin kebanyakan banyak yang menjadi merasa begitu tersiksa karena harus mati-matian menghilangkan semuanya itu dari dalam pikiran.

satu-satunya cara adalah dengan menghadapi. seorang teman saya, Zaldi, mengatakan, “kadang-kadang yang dibutuhkan hanya menerima keadaan dan mengambil sisi positif dari kejadian-kejadian.. berdamai dengan manusia, berdamai dengan diri, berdamai dengan rasa..”. berdamai, artinya tidak berusaha melawan atau menjadikan sesuatu atau seseorang itu musuh kita. karena mungkin itulah yang terbaik.

mungkin hidup kita ini seperti sebuah buku tamu yang tebal dan besar di mana setiap orang yang masuk dalam hidup kita akan menuliskan nama mereka serta keterangan tentang apa yang mereka akan atau sudah lakukan dalam hidup kita, di mana mereka menuliskannya dengan tinta yang tidak bisa dihapus. untuk melupakannya mungkin buku itu bisa saja dibuang atau dibakar, tapi itu tadi ibaratnya, buku tersebut adalah hidup kita sendiri, yang berarti bila kita ingin benar-benar membuangnya, kita juga mengakhiri hidup ini. dan saya rasa hidup kita masing-masing terlalu berharga untuk diakhiri hanya karena sebuah atau beberapa peristiwa yang kita alami, bukan?

maka jika ini semua adalah tentang pilihan, maka saya ingin memilih. saya ingin memilih menikmati rasa sedih saya. dan saya tau kapan saya akan puas menikmatinya. kapan saya merasa cukup. sehingga setelah waktu itu datang, saya akan bisa bangkit lagi walau perlu melata untuk bisa beranjak tegar seperti lagu “Melata Hati”-nya Cozy Street Corner..

toh saya yakin bahwa kesedihan tidak akan datang terus-menerus. seperti apa yang dikatakan kumpulan surat-surat R.A Karini yang kemudian dibukukan dan dijuduli “Habis Gelap Terbitlah Terang” atau seperti sebuah buku yang pernah saya baca, “Ada pelangi di balik badai”.. bahkan seperti lagu Alm. Chrisye “Badai Pasti Berlalu”.. saya yakin, suatu yang baik akan tiba, jika kita memilih untuk berpengharapan untuk melihat hal baik tersebut di kemudian hari J

orang datang dan pergi dalam kehidupan kita. beberapa hari yang lalu saya baru saja kehilangan orang yang punya arti begitu besar dalam hidup saya. orang yang sudah membuat saya melihat bahwa hal indah itu ada dan nyata, tidak hanya dalam angan-angan saja. orang yang saya pikir akan membuat hidup saya lengkap. dia tidak meninggal. dia masih hidup. dalam keadaan yang selalu baik-baik saja. kehilangan yang saya alami bahkan terjadi saat kami belum sekalipun bertemu. tapi saya tidak pernah begitu menyesali apa yang pernah saya beri atau apa yang tidak pernah saya dapat dari dia. bagi saya, dia itu sempurna, walau pun bukan untuk saya. dan saya hanya senantiasa berharap bisa bertemu dia di suatu waktu dengan keadaan yang baik-baik saja. saya cuma bisa berharap dia tidak begitu membenci saya dan segala apa yang pernah saya katakan, lakukan, atau rasakan.

Datang_dan_pergi saya rasa Tuhan memang begitu baik. ada yang pergi dan ada yang datang. saat orang ini akhirnya pergi (atau mungkin lebih tepatnya, saya yang pergi dari hidupnya), seorang sahabat kembali ke jakarta setelah menimba ilmu di negeri kangguru. seseorang yang juga dulu pernah begitu mengisi hari-hari saya. dan mengisi hati saya. berbagai perasaan sudah pernah saya alami dengan sahabat ini. mulai dari jatuh cinta hingga sakit hati, dan berbagai perasaan lainnya, semuanya hanya akan menjadi sebuah bagian penting dalam perjalanan hidup saya. sebenarnya ada harapan untuk bisa lebih dekat lagi dengan dia, walau ternyata dia di sana berhasil menemukan belahan jiwanya. tapi tak apa. dia datang lagi dengan keceriaan yang sama seperti dulu. dan dia serta kehadirannya mengobati sakit ini.. J “welcome home, Bro..”

*sigh*

saya menghela napas panjang. bukan karena lelah atau apa, tapi karena ada perasaan lega bahwa saya bisa memikirkan semua ini.. saya hanya butuh kekuatan dari Tuhan untuk kembali menjalani hidup saya.. tetap mensyukuri segala hal, baik ataupun buruk.. belajar untuk berdamai dengan manusia, berdamai dengan diri, berdamai dengan asa..

p.s : thanx to Frisya ‘Icha’ Gitalia, Zaldi Hamdani, Anindita Damayati, Anindita Gabriella, Annastasia Puspaningtyas, Mba Reda Gaudiamo, Holand Teguh Hardono.. and last but not least, Hotma Sahat Pangidoan Siahaan..

“People are almost always changed by traumatic events

they face during their lives,

but they need not to be damaged by those events…”

-John D. Weaver

selamat tinggal

April 11th, 2008 by timunkancil

1906336698_7f17345be2_m_1

*sigh*

saya memulai tulisan ini dengan menghela nafas panjang..

kemaren malam, saya membuat sebuah keputusan, yang saya sendiri tidak tahu, apakah keputusan itu tepat atau tidak, perlu dibuat dan diambil atau tiak, dan yang paling utama adalah, saya tidak tahu apakah saya akan mampu menjalani keputusan yang saya ambil itu..

ya.

ini tentang perasaan. suatu topik yang sudah tidak tahu lagi harus saya bahas dengan siapa.. bukan berarti saya tidak punya sahabat atau teman untuk membahas masalah ini, tapi .. saya sendiri seperti kehilangan kata-kata untuk membicarakannya.. dalam tulisan ini juga saya tidak yakin mampu menuliskannya dengan benar, sesuai dengan apa yang saya rasakan saat ini..

jujur, saya berkali-kali gagal dalam urusan membangun hubungan dengan orang lain, ya, dengan lawan jenis. terserah mau tertawa membacanya atau tidak, tapi saya rasa tidak ada salahnya dan itu bukan sebuah aib karena bagi saya, itu merupakan bagian dari perjalanan hidup yang kemudian saya sadari dapat saya jalani dan nikmati.. artinya, walaupun keadaannya demikian, saya masih tetap bisa hidup kok, walau sesekali merasa sepi sekali, bahkan tidak jarang merasa sangat tidak berarti.. tapi kemudian saya cukup mensyukuri keadaan saya.. walaupun sering berakhir dengan sakit yang begitu dalam, tapi saya bisa bangkit lagi, dengan hati yang baik-baik saja, bahkan siap untuk jatuh cinta, walau itu artinya saya juga mesti siap-siap..

memang selalu seperti ada yang salah dengan orang-orang yang sebelumnya.. ada yang tidak cocok, ada yang tidak sejalan, ada-ada sajalah.. tapi bukan berarti orang yang tepat untuk saya adalah orang yang sama persis dengan saya.. kalau keadaannya seperti itu, buat apa saya butuh orang lain.. saya bisa memenuhi kebutuhan diri saya sendiri.. tapi tidak demikian keadaannya..

saya hanya ingin bertemu dengan orang yang tepat, orang yang menerima saya apa adanya.. artinya tidak harus sama persis dengan saya atau saya harus mengikuti semua kebiasaan orang ini.. tapi apapun perbedaan dan persamaan yang ada di antara kami justru yang akan membangun hubungan ini.. dan saya pikir, kesempatan untuk menemukan orang seperti itu adalah kesempatan sekali seumur hidup.. dan saya (lagi-lagi) belum menemukan kesempatan itu..

suatu hari saya jatuh cinta dengan seseorang yang juga saya kenal secara tidak sengaja ketika membuka-buka Friendster seorang teman. jujur, dari awal saya merasa dia… he’s just too good to be true.. saya ingat, pada waktu saya kuliah dulu, saya pernah menulis tentang harapan saya tentang masa depan saya.. ada dua cerita..

pertama, saya bercita-cita untuk hidup selibat, tidak menikah.. saya ingin tinggal di sebuah rumah sederhana yang lantainya terbuat dari kayu, di mana di rumah itu saya akan tinggal bersama seekor anjing dan seekor kucing, beberapa ekor ikan mas koki dalam akuarium kecil.. beberapa jenis tanaman di halaman depan, dengan sebuah sepeda dan vespa yang terparkir di samping rumah.. pekerjaan yang saya lakukan sebuah pekerjaan yang tidak membutuhkan presensi saya di sebuah gedung perkantoran, namun dalam pekerjaan yang saya lakukan, saya biasa berkreasi sebebasnya, di mana hasil kreasi saya bisa saya gunakan untuk mencukupi kebutuhan kehidupan sederhana saya.. dan hasil kreasi saya juga bisa dinikmati oleh orang lain..

kedua, saya bercita-cita akan menikah dengan seorang pria yang akan memberi saya dua orang anak, perempuan dan laki-laki. kami tinggal di sebuah rumah sederhana di mana kami memiliki sebuah mobil vw kodok dan sebuah vespa, anak-anak kami memiliki sepedanya masing-masing, dengan lingkungan tetangga yang sangat bersahabat.. kami memelihara seekor anjing dan kucing.. dan kami hidup bahagia..

di dalam rumah kami, saya menginginkan sebuah ruang musik, di mana di dalamnya terdapat sebuah grand piano atau paling tidak sebuah keyboard atau electric piano serta beberapa alat musik lain, termasuk gitar akustik.. pria yang akan menjadi suami saya adalah seseorang yang mencintai musik dan seni seperti dia mencintai hidup dan keluarganya.. dia bisa memainkan piano dan gitar, dia bisa memainkan dan menyanyikan beberapa lagu tentang cinta untuk saya, dia juga mencintai seni, suka dan pandai menggambar, dan dia yang kemudian mengajari anak-anak kami  mencintai dunia seni musik dan gambar.. dia adalah orang yang hidup dengan sehat, tidak merokok dan taat beribadah (artinya dia seiman dengan saya).. intinya hidup saya lengkap..

dan bagi saya, impian kedua adalah sebuah impian yang juga terlalu indah untuk jadi nyata.. dan seakan-akan orang yang baru saya kenal ini bisa mewujudkan impian saya tersebut..

ah, sepertinya saya terlalu cepat menyimpulkan..

beberapa minggu yang lalu saya sempat mengirim pesan singkat kepada mba Reda (ari.reda), saya minta agar pada saat penampilan mereka pada tanggal 1 Maret 2008 di etnobook gallery yang saya hardiri itu, mereka mau membawakan lagu “Ketika Berhenti Di Sini..” sebuah musikalisasi dari puisi Sapardi Djoko Damono dengan judul yang sama..

Ketika Berhenti Di Sini

Ketika berhenti di sini

Ia mengerti

Ada yang telah musnah

Beberapa patah kata yang

Segera dijemput angin

Begitu diucapkan

Dan tak sampai ke siapa pun..

Mba Reda sempat bertanya apa yang terjadi, lalu saya menjelaskan bla..bla..bla.. saya sempat bertanya, kenapa Tuhan seakan-akan membiarkan kita jatuh cinta pada orang yang salah? Kenapa Tuhan seakan-akan membiarkan rasa itu berkembang terlalu besar dalam hati dan kemudian kenapa juga Dia seakan-akan membiarkan semuanya itu hancur begitu saja? Mba Reda mencoba menjawab saya. “Nat, mungkin Tuhan sudah memberi tandaNya, tapi kita aja yang tidak atau kurang melihat.. Dulu ibuku bilang, apa yang kita mau, kita minta sama Tuhan, sedetail-detailnya, termasuk minta agar tidak sakit hati..”

Mungkin ada benarnya juga, tapi saya merasa bahwa apa yang saya minta sama Tuhan itu terlalu macam-macam.. bukankah itu seperti mendikte Tuhan? Tapi mungkin tak ada salahnya juga, toh juga Tuhan akan melihat apakah itu cukup baik atau tidak untuk kita, kemudian Dia pasti akan memberikan yang terbaik di mataNya..

dan saya memintanya sama Tuhan.. dan saya bertemu (walaupun belum pernah ketemu langsung sih) dengan orang ini.. semua yang saya mau ada sama dia.. makanya saya jatuh cinta dengan orang ini.. tapi kemudian.. dalam perjalanannya, sepertinya tidak ada sesuatu yang ‘lebih’ yang tumbuh di antara saya dan dia.. lebih tepatnya, saya tidak tahu harus berkata apa.. yang jelas dia tiba-tiba menjadi orang yang begitu spesial (tidak pake telor ceplok ya..) dalam hidup saya.. menjadi alasan saya untuk selalu tersenyum di pagi hari walau saya tahu  bahwa saya akan melewati perjalanan macet menuju tempat kerja, alasan saya tersenyum di siang hari ketika saya mengirim pesan singkat kepadanya untuk mengingatkan agar tidak lupa makan walau saya tahu bahwa kadang-kadang saya juga bingung mau makan siang apa karena uang saya pas-pasan (maklum, volunteer.. kerjanya sukarela.. punya uang hanya di tanggal 7 atau 8 tiap bulannya, bahkan tidak jarang di pertengahan bulan baru punya uang lagi.. hehehe).. intinya dia menjadi hal indah yang begitu saya syukuri selama 3 bulan terakhir.. tapi saya tidak pernah tahu, apa atau siapa saya di dalam hidupnya..

bertepuk sebelah tangan? terserah mau disebut bagaimana, yang jelas saya tidak merasa demikian.. pada saat saya jatuh cinta, dalam hati saya meyakinkan diri bahwa saya akan baik-baik saja apapun akhirnya nanti.. tapi ternyata saya salah.

walaupun berkali-kali saya menemui akhir yang kurang menyenangkan, dan merasa sakit, saya salah. saya tidak lantas menjadi kebal terhadap rasa sakit tersebut. rasa sakit yang saya alami, kapan pun itu, tetap terasa sakit, dan tiap kali saya mengalaminya, saya seperti selalu lupa bagaimana mengatasinya.. yang saya ingat hanya, saya menangis untuk ‘merayakan’ rasa sakit tersebut..

dan itulah yang saya alami kemaren, tepatnya setelah saya menelepon orang tersebut, mendapat tanggapan yang bagi saya terasa begitu dingin dan datar.. sampai saya tidak tahu harus berkata apa-apa lagi.. dan kejadian itu entah mengapa saya artikan sebagai pertanda, dari Tuhan, entah benar atau tidak, untuk berhenti..

saya akui saya bukan orang hebat yang senantiasa bisa membaca tanda-tanda di sekitar saya, termasuk tanda dari Tuhan.. tapi kemaren malam saya mencoba meyakinkan hati saya bahwa itu saatnya.. walaupun saya tidak yakin saya akan mampu menjalaninya, apakah saya mampu berhenti berharap.. saya tidak tahu.. tapi saya akan mencobanya..

dan jika itu salah? maka biarlah itu salah dan berlalu begitu saja.. pun kalau ternyata saya salah, saya yakin Tuhan punya jalan untuk menunjukkan yang benar untuk saya, cepat atau lambat.. sekarang atau entah berapa lama lagi..

toh pada awal saya merasa jatuh cinta dengan orang ini, saya sudah mempersiapkan diri saya dengan kemungkinan yang terburuk sekalipun. bukannya saya pesimis, tapi saya hanya mempersiapkan diri saya.. meyakinkan bahwa apapun yang terjadi di akhir nanti adalah persoalan nanti.. apa yang bisa saya nikmati pada saat ini, patutlah saya nikmati dan patut saya mengucap syukur untuk apapun itu.. kalau pada akhirnya pun berakhir dengan begitu saja, toh saya sudah mengalami hari-hari yang menyenangkan..

kan

katanya, cinta tak harus memiliki..

dan saya pamit, mengucapkan selamat tinggal..

dan saya sedang berusaha ‘membunuh’ dia dalam diri saya, membunuh dia dalam tiap pikiran saya, dalam tiap lagu-lagu yang mengingatkan saya akan dia.. walau jujur, saya sangat tidak ingin melakukan itu.. saya tidak mau.. tapi saya bisa apa?

jadi, selamat tinggal untuk saat ini.. jika lain hari kita bertemu lagi, dan kamu ingin menyapa, panggil saja saya, toh saya tidak akan pernah bisa membenci kamu.. toh saya tidak akan pergi terlalu jauh.. saya tidak berlari.. hanya berjalan perlahan dan enggan buru-buru menoleh lagi ke belakang untuk melihat kamu..

selamat tinggal. 090408

song of the day!

April 11th, 2008 by timunkancil

438599139l_3 

bayang-bayang ilusi (anggun)

kala mataku terpejam
sunyinya malam
kala hasratku membara
khayal s’makin tinggi

seribu asa hadir di sekelilingku
bangkitkan gairah hidup
sejuta harapan di dalam jiwaku lelah
semua masih di dalam angan

jurang jurang menghadangku
getarkan jiwa
dan berkarya kegelapan
datang memandang

keraguan kini menjelma di dada
musnahkan segala asa
semua harapan yang dulu pernah ada
tiada tersisa

chorus:
haruskah ku hidup dalam angan-angan
merengkuh ribuan impian
haruskah ku lari dan terus berlari
kejar bayang-bayang ilusi

bayangan ilusi… hanya fantasi…. bayang ilusi …

haruskah kuhidup dalam angan angan
merengkuh ribuan impian
haruskah kulari dan terus berlari
kejar bayang bayang ilusi……
merengkuh ribuan impian

oooooooo, haruskah kulari dan terus berlarii
kejar bayang bayang ilusi

bayangan ilusi… hanya fantasi… kejar ilusi….terus berlari…. bayangan ilusi…. uuuuuu

minggu pagi yang indah..

April 11th, 2008 by timunkancil

Sunday1_1

Minggu pagi sepulang gereja, saya tiba-tiba ingin mendokumentasikan tanaman-tanaman hasil kerajinan Mama dan Bapak di luar.. semua sedang bagus-bagusnya.. berbunga, berdaun.. berkembang J termasuk koleksi anthurium yang entah dari mana dikumpul-kumpulkan Mama dan Bapak.. semuanya merupakan hiburan yang sangat menghibur untuk mereka berdua.. saya senang melihat mereka masih punya semangat untuk berkebun dan bertanam-tanam, dan tanpa disadari mereka membantu membuat udara di sekitar rumah tetap segar dan tetap hijau..

Sunday2

Sunday3

Sunday4

tak lupa, saya pun bermain-main dengan Si Timun, anjing saya yang tersisa dari keluarga Kancil-Timun.. anjing yang tetap setia walau kadang mandinya sekali sebulan.. hehe J tapi dia tetap jadi anjing yang baik..

Sunday6

ah, minggu pagi lalu itu indah sekali.. matahari bersinar terang dan udara segar.. hari yang baik untuk beristirahat di rumah untuk kembali bekerja esok hari..

Terima kasih, Tuhan.. J

berlayar di siang hari.. memancing di sore hari..

April 10th, 2008 by timunkancil

cerita ini tentang judul salah satu lagu Cozy Street Corner di album mereka yang ketiga 3.3 from the corner, Berlayar Di Siang Hari.. kalo ga salah, lagu ini bercerita tentang perairan Indonesia, tepatnya perairan di dekat Maluku sana, yang mana lautnya (kalo tidak salah lagi, menurut Oom Kris) memiliki ikan tongkol (atau apalah istilahnya, tuna atau cakalang) yang sangat melimpah, sehingga kalo tidak salah lagi, suatu hari di salah satu stasiun televisi (kalo tidak salah, TVRI) digambarkan nelayan yang begitu mudahnya memancing ikan di perairan ini.. ikannya melimpah sehingga tiap melemparkan kail, pasti akan dapat.. seperti lirik di lagunya ini..

berlayar di siang hari

music : c.b. takarbessy, p.b. adi, b.priambodo

lyrics : c.b takarbessy

kini berlayar

berteman ombak

menyapa angin oh ya

sengat sang surya

tiada terkira

menyentuh jiwa

ya kuatlah

layar tak koyak

dayung tak lelah

perkasa lengan oh ya

sengat sang surya

kian tak terkira

telah tertawa jua

dayung ke mana ada ikannya

ada ikannya oh ya

dayung ke mana ada ikannya

la la la la la la la la la…

dayung ke mana ada ikannya

ada ikannya oh ya

ada ikannya ada ikannya

la la la la la la la la la…

siaplah jala raih ikannya

banyak ikannya oh ya

biarlah jala raih ikannnya

du du du du du da da da da..

dayung ke mana ada ikannya

ada ikannya oh ya

ada ikannya ada ikannya

la la la la la la la la la…

siapkan jala raih ikannya

ada ikannya oh ya

biarlah jala raih ikannya

la la la la la la la la la…

membayangkannya saja saya sudah senang.. apalagi ikut memancing.. hingga akhirnya saya mendapatkan kesempatan tersebut.. tanggal 21-23 Maret 2008 lalu saya ikut berlibur ke daerah Lembang bersama Mama, Bapak, Bang David, dan Keluarga Bang Robet (Bang Robet, Ka’ Mila, Hazel, Ibu, Uwa, Yani, dan A’i). kami berangkat setelah kami pulang dari gereja mengikuti kebaktian Jumat Agung. Kami tiba di Lembang, tepatnya di Sapu Lidi Resort yang terletak di jalan Sersan Bajuri sekitar pukul 12 siang. Kami sudah lapar dan makanan yang kami bawa dari rumah sedang disiapkan ketika Hazel, keponakan saya, meminta roti untuk di makan. Roti yan dimakan berisi keju yang kemudian berceceran di lantai kamar. Karena tidak menemukan tempat sampah, saya melemparkannya ke luar jendela. Tepatnya ke danau yang ada di luar kamar kami. Dan tahu apa yang saya temukan? Ikan gurame besar-besar serta ikan nila yang sepertinya kelaparan mengerubuti keju yang saya lemparkan. Ikan-ikan itu begitu banyak dan begitu besarnya. Saya jadi tidak sabar dan meminta Bapak untuk mengeluarkan gulungan nyilon untuk mencoba memancing. Saya umpani dengan keju lagi dan saya lemparkan begitu saja dari jendela. Tahu apa yang terjadi? Umpan di kail yang saya lempar diterkam oleh ikan gurame besar yang kemudian memutuskan nyilon yang tipis itu.

Penasaran dengan ikan itu, saya memberitahu Bapak dan Bang Robet. Sambil makan siang, pikiran saya tak lepas dari ikan-ikan tadi, sehingga sehabis makan, saya memanjat jendela untuk turun ke bawah, ke batu-batu di pinggir danau. Kami mencoba keberuntungan kami siang itu. Sayangnya terlalu banyak sampan yang berlalu lalang di danau sehingga ikan-ikan itu bersembunyi entah di mana. Sore datang dan kami akhirnya menyerah. Penasaran dengan sampan yang dari tadi mondar mandir mengacaukan acara memancing kami, saya mengajak Ka Mila untuk naik. Tanpa si pendayung. Awalnya saya iseng. Saya tidak bisa berenang dan tidak punya pengalaman mendayung sampan sama sekali, tapi entah apa yang mendorong saya untuk mendayung ke tengah. Ternyata saya bisa. Hebat. Kami berhenti di tengah danau untuk melemparkan pancing, menunuggu sejenak tapi tak berhasil dan kami pun kembali ke tepian. dan malam pun akhirnya tiba, kami mulai kedinginan dan mulut serta hidung kami mulai menghembuskan uap yang terlihat di udara yang dingin.Kami pun beristirahat dan menyantap makan malam.

Keesokan harinya, setelah kami membaca Alkitab, kalau tidak salah saat itu jam setengah 6 pagi, saya kembali memancing. Sayangnya pagi itu kami belum juga berhasil. Jam 9 pagi kami siap-siap untuk pergi ke Tangkuban Perahu. Perjalanannya cukup jauh dan medan yang ditempuh cukup berat karena mobil Honda CRV Bapak belum sempat diservis. Sekitar pukul setengah 11 siang kami tiba. Sayangnya saya tidak terlalu banyak mengambil gambar di sana.

Kami hanya sebentar di sana. Berlayar
Hanya sempat melihat beberapa kios yang menjual barang-barang unik dan menjual kelinci. Juga menikmati ketan bakar yang lumayan lezat untuk mengganjal perut yang agak keroncongan. Ow ya, Mama sempat membeli satu set angklung. Siang itu kawasan wisata tersebut padat oleh pengunjung yang entah berdatangan dari mana. Lalu kami segera turun lagi untuk makan siang di Restoran Sindang Reret II. Kalo kata si Ibu, Reret artinya ‘noleh’. Hehe.. selama dalam perjalanan, pikiran saya terus tertuju pada ikan-ikan di danau. Pulang dari sana

, kami mampir di pasar untuk membeli sayuran serta jagung untuk dibakar malam harinya. Kami juga tak lupa membeli keperluan untuk membuat ikan bakar serta bumbunya. Entah kenapa saya yakin, sore harinya kami pasti akan berhasil menangkap beberapa ekor ikan untuk dibakar.

Kami tiba di hotel sekitar pukul setengah 3 sore. Dan hal pertama yang saya lakukan adalah mengganti celana jeans saya dengan celana pendek, mengambil pancingan tanpa tali itu, dan langsung lompat ke luar jendela berbekal sepiring umpan yang terdiri dari bermacam lauk.

Ada udang goreng dan ayam kecap. Bukan, bukan untuk saya makan. Tapi untuk umpan. Sore itu danau sepi, tanpa sampan yang mondar mandir. Dan saya berhasil. Seekor ikan nila kecil berhasil saya pancing. Ukurannya memang tidak seberapa besar. Malah bisa dibilang kecil. Tapi rasa puas yang ada dibaliknya, luar biasa. Maklum, ini pertama kalinya saya memancing, setelah saya besar. Dulu, waktu saya masih SD mungkin, pernah diajak Bapak memancing di dekat bengkel Bapak di.. di mana ya? Sekitar mil 34 mungkin, saya tidak terlalu ingat. Waktu itu, saya juga dapat 1 ekor ikan. Tapi dapat bukan karena umpannya dimakan ikan, tapi karena kail yang saya lempar langsung tertancap dan tersangkut di insang ikan. Hehe. Jadi itu tidak saya anggap sebagai keberhasilan dalam memancing ikan.

Sore pun menjelang, Bapak memancing lewat jendela, Bang Robet numpang mancing di balkon hotel kamar orang yang kebetulan lagi tidak di kamar, dan orang-orang lain memancing dekat kamar mereka. Sore itu langit sudah sangat gelap. Bapak memancing dengan tali pancing dan nyilon kecil yang disewakan oleh hotel. Lumayan, bapak dapat banyak ikan ukuran sedang dan kecil. Lalu tiba-tiba umpan Bapak dimakan ikan gurame besar yang kemudian pada saat ditarik, putus begitu saja, hilang bersama pelampung, pemberat, dan ujung kailnya.. hujan kemudian turun, dan kata Bapak, ikan akan semakin banyak muncul saat hujan turun. Saat itu sudah jam 5 sore.. rasanya saya sudah cukup puas dengan hasil tangkapan kami. Ikan-ikan yang sedari sore tadi ditangkap sudah dibumbui dan siap dibakar. Udara juga semakin dingin dan saya bertanya sama Bapak, “ Sudah ya Pa?”. tapi Bapak bilang, “sekali lagi, ini terakhir, lempar ke sebelah sana!”. Bapak melihat dari jendela dan saya melemparkan pancingan saya yang ujungnya berkail 3, dari ukuran terkecil hingga terbesar, dengan umpan brutu ayam kecap.. tali nyilonnya saya berikan sama Bapak dan saya hanya terdiam memandang rintik hujan yang turun dan menimbulkan riak kecil di atas danau ketika tiba-tiba tali nyilon menegang dan bayangan putih kekuningan melesat cepat di bawah air serta suara Bapak yang dengan perlahan mengatakan, “Dapat!” membuat saya segera tersadar dan tanpa diminta langsung membantu menarik tali nyilon yang sudah sangat tegang tersebutMancing2

Ikan gurame itu besar! Mungkin beratnya berkisar antara 3-4,5 kg. Dan sebenarnya saya tidak yakin ikan itu akan sampai di dalam kamar hotel. Saya berpikir ikan itu akan lepas lagi, tapi ternyata tidak. Saya berhasil menarik ikan itu sampai ke atas batu-batu tempat saya berpijak, dan kemudian dari jendela Bapak mengangkat ikan itu ke dalam kamar, dan saya segera menutup jendela, takut kalau-kalau ikan tadi dengan kekuatan super akan memberontak dan lompat lagi ke danau. Kami berteriak kegirangan di tengah hujan, dan banyak mata yang tertuju pada ikan tangkapan kami diikuti gumam orang-orang itu, “wah ikannya besar sekali!”.. sayang, pada saat kami mendapat ikan itu, tidak ada yang merekamnya. Hanya ketika ikan itu sudah aman, saya masuk dan meminta Ka Mila untuk mengabadikan momen tersebut.

Mancing1
Ikan itu masih beberapa kali menggelepar di lantai sehingga sempat membuat Hazel kaget dan menangis. Saya berteriak ke luar jendela, memberi tahu Bang Robet dan Bang David di kejauhan bahwa Bapak berhasil mendapat ikan gurame besar itu.

Kami mencari batu untuk memukul kepala ikan karena ikan itu dengan hebatnya menggelepar, takut nanti siripnya yang tajam malah melukai tangan Mama. Setelah memukul kepala ikan itu berkali-kali, akhirnya ia menyerah.

Kepuasan luar biasa yang kami dapat dan rasakan sore hari itu J

Saya masih sempat mengenakan sweat shirt hitam saya dan kembali turun ke danau, tapi hanya mendapatkan seekor ikan nila berukuran sedang. Setelah itu saya tidak tahan lagi dengan dinginnya udara dan hujan yang menderas. Saya segera masuk. Dan mandi. Sayangnya kami tidak ingat untuk mengabadikan belasan ekor ikan hasil tangkapan kami. Ikan-ikan itu dibakar dan kami makan dengan nasi panas.

Rasanya memang tidak luar biasa spesial (karena tidak pake telor ceplok, mungkin? hehe), tapi enak karena kami menangkapnya sendiri. Dan tidak seperti ikan air tawar pada umumnya yang hampir pasti sedikit berbau lumpur atau tanah, ikan-ikan hasil tangkapan kami dari danau itu dagingnya manis tanpa rasa tanah sedikit pun. Ikan-ikan ini rupanya tidak diberi makan secara rutin seperti di kolam pemancingan dengan pelet atau sejenis makanan ikan lainnya. Sehingga pantas saja ikan-ikan itu terlihat lahap menyantap apapun yang dilemparkan ke dalam danau.

Setelah kenyang makan ikan bakar, kami bersantai, memainkan angklung yang dibeli di tangkuban perahu tadi. Sementara itu, jagung bakar pun disiapkan. Ada dua rasa. Rasa mentega dan rasa mentega pedas. Keduanya nikmat dan lezat. Setelah itu, kami pun tertidur dengan lelap. Dan ikan-ikan itu masih menari dalam mimpi saya..

Esok pagi, kami mengadakan ibadah Paskah kecil. Setelah itu saya lompat lagi ke danau. Tapi sayangnya hanya dapat satu ikan kecil. Bang David yang sedari kemaren tidak juga berhasil mendapat ikan, akhirnya berhasil menangkap ikan yang lumayan besar. Sayangnya hari itu kami akan pulang ke Jakarta sehingga akhirnya ikan-ikan itu kami lepas lagi ke danau. Kami keluar dari hotel sekitar jam 10 pagi dan segera menuju Rumah Mode di jalan Setiabudi. Membeli beberapa potong baju dan kemudian makan siang. Jam 2 kami berangkat dari Bandung untuk pulang ke Jakarta.

Bagi saya, ini adalah salah satu liburan yang menyenangkan yang akan saya kenang terus. Terima kasih untuk Ka Mila dan Bang  Robet yang sudah mengajak kami berlibur. Dan terima kasih Tuhan untuk waktu yang Kau beri.

yang masih (sempat) saya ingat..

April 9th, 2008 by timunkancil

Ikan Koi, anthurium, Cowok Tomboy, dan mangga kebembem…

Beberapa waktu yang lalu, kalau saya tidak salah, tanggal 1 Maret 2008 yang lalu, saya, Gabi, dan Skee bersama-sama menonton acara musikalisasi puisi oleh ari.reda, sebuah grup musik, yang terdiri dari dua orang penampil, yaitu mas Ari Malibu dan mba Reda Gaudiamo. Mereka pada saat itu tampil di sebuah toko buku, entno book gallery di kawasan Hanggar Teras Pancoran.

Siang itu kami duduk di depan etno book sambil mencoba memulai pembicaraan ringan dengan mba Reda, menunggu para pengunjung ramai. Awalnya pembicaraan itu dimulai karena kami membahas betapa besar-besarnya ikan Koi yang kami lihat di acara pameran ikan Koi di sebelah etnobook. Ikan Koi yang kami lihat, panjangnya mencapai 70-80 cm dengan berat mungkin berkisar 5-7 kg per ekornya. Dipamerkan dalam sebuah plastik bening berisi air dan sedikit udara, di mana kami sangat yakin bahwa ikan itu merasa begitu tersiksa di siang hari yang sangat panas. Ikan-ikan itu tidak bisa ke mana-mana, hanya bisa maju dan mundur sedikit dalam kantong plastik itu.

Kami membicarakan bagaimana ikan itu bisa menjadi sebuah tren, di mana tiba-tiba begitu ‘digandrungi’ (bahasa ini sering dipakai di iklan perhiasan, seperti anting-anting di sebuah iklan televisi seperti tv media dulu.. biasanya dikatakan begini “ini adalah perhiasan yang digandrungi oleh anak muda dan para ibu”.. hihi..) oleh orang banyak. Siapa yang pertama kali mengatakan bahwa ikan ini memiliki suatu hal yang begitu spesial. Apakah dia pake ‘telor ceplok’ sehingga dikatakan spesial?

Sama halnya dengan tanaman Anthurium yang belakangan menjadi tren di kalangan pecinta tanaman dengan harga yang berkisar antara ratusan ribu hingga jutaan rupiah.. apa spesialnya daun dengan pinggiran bergelombang seperti “Wave of Love” atau bahasa indonesianya, gelombang cinta? Bergelombang iya, cinta nya di mana? Atau dengan jenis “pride sumatra” yang entah itu aslinya dari sumatra atau bagaimana. Kami mengira-ngira bahwa mungkin untuk menjadikan sesuatu itu jadi tren, ada agen yang dibayar entah berapa juta kemudian dengan cara dan strateginya sendiri dia membuat sesuatu menjadi tren. Apapun itu. Bahkan kata-kata, seperti kata “secara” yang beberapa waktu lalu mewabah dalam hampir tiap pembicaraan. Kasian kata “secara” itu, dia kehilangan artinya yang sesungguhnya..

Lalu kami membicarkan tentang kemungkinan-kemungkinan yang ada dari tanaman-tanaman aneh di sekitar kita yang mungkin dalam beberapa waktu ke depan akan menjadi tren. Termasuk mangga kebembem. Gabi cerita bahwa beberapa waktu lalu, mamahnya dan teman-teman mengadakan acara di rumahnya. Lalu ada teman mamahnya yang membawa buah-buahan termasuk kebembem ini. Terus terang itu pertama kalinya saya mendengar kata kebembem. Katanya buah ini, dikategorikan sebagai mangga, kurang masuk. Dikategorikan sebagai kueni (sejenis mangga juga sih yang seratnya luar biasa banyak dan baunya luar biasa membuat saya pusing) juga kurang masuk.. kata mba Reda “jadi si kebembem ini sebenarnya agak pusing.. mencari jati dirinya, apakah dia termasuk mangga atau kueni..”. Kami tertawa. Tapi kami lebih tertawa lagi ketika Skee mengatakan hal ini. “itu kaya’ cowok tomboy. Cowo’ kok tomboy.. dia bingung mencari jatidirinya..” lalu kami berpikir bahwa ada istilah baru yang lahir siang itu, di samping mangga kebembem dan cowo’ tomboy.. Cowo’ kebembem..hehe.. entah suatu hari akan menjadi tren atau tidak, tapi kami menikmati perbincangan kami siang itu. Hingga akhirnya mba Reda harus tampil bersama mas Ari. Mereka ternyata baru menelurkan (saya pikir manusia tidak bertelur) sebuah album baru, yang sebagian berisi lagu dari album pertama, ditambah banyak lagu baru yang juga merupakan musikalisasi puisi dari beberapa penulis selain dari bapak Sapardi Djoko Damono. Sukses untuk albumnya ya mas Ari dan mba Reda :)

She just doesn’t get the point..

Masih ingat tentunya beberapa minggu lalu, saya lupa tepatnya tanggal 19 atau 20 Maret ketika angin kencang dan hujan deras mengguyur hampir seluruh bagian Jakarta dan sekitarnya dan mengakibatkan banjirnya beberapa ruas jalan dan menimbulkan kemacetan luar biasa itu.. Saya dan kk Icha merasa cukup beruntung hari itu karena kami sebenarnya tidak tau apa yang terjadi di luar sana. Kami keluar dari kantor sekitar jam 7 lewat. Kk Icha mengajak makan di Solaria Wisma Metropolotan II, di bawah. Kami makan sambil bercerita-cerita tentang banyak hal seputaran aktivitas kami sehari-hari. Jam 8 kurang 15 kami pulang. Saya naik 17 yang dari luar kelihatan tidak terlalu penuh. Ketahuannya tidak terlalu penuh, karena belum ada yang menjadi “tour guide”-nya kata kk Icha. Maksudnya orang yang sampe harus duduk di jendela depan bus. Hehe. Tapi ketika saya masuk lewat pintu belakang, ternyata sudah penuh juga busnya, jadi saya duduk di kursi tambahan, jadi “tour guide” di bagian belakang. Perjalanan dari Sudirman hingga Jatibening tergolong cukup lancar malam itu, sekitar 45 – 50 menit. Besok paginya, ketika saya naik lift ke lantai 12, ada sekitar 4 atau 5 orang lagi yang bersama-sama dengan saya, termasuk seorang ibu yang sudah cukup tua dan seorang perempuan yang rupanya satu kantor dengan si ibu ini. Mereka bercakap-cakap demikian.

Ibu : “Kemaren itu macet luar biasa ya.. saya biasa ke rumah cuma sekitar 15 – 30 menit, kemaren itu sampe 3 jam baru saya tiba di rumah. Kalau dihitung-hitung, 3 jam itu saya sudah sampai di Bandung dan sudah bisa makan bubur di sana..”

Saya, sebagai orang yang tidak terlibat dalam percakapan itu bisa bersimpati dalam hati atas apa yang dialami si ibu tadi malam. Tapi tahu apa komentar si perempuan itu?

Perempuan : “Oh ya? 3 jam? Emang biasa di Bandung, ibu makan bubur di mana?”

Doh?! Halo??!! Please!!! You just don’t get the point! Payah banget si perempuan itu, bukannya bersimpati malah nanya makan bubur di mana.. Si ibu juga sepertinya jadi bingung mesti jawab gimana, jadinya mungkin sedikit ngarang. Begini.

Ibu : “oh, eng.. itu.. saya biasanya sih diajakin ama anak saya tuh, Saya juga kurang ingat nama tempatnya apa..” *mungkin sambil mengumpat dalam hati, bodohnya cewe ini!*

Lalu mereka berdua turun entah di lantai berapa, yang jelas sebelum lantai 12. Saya keluar dari lift sambil menggeleng-geleng dan sempat tersenyum sendiri.. Ampun deh..

“the more I try to erase you, the more that you appear..”

April 9th, 2008 by timunkancil

suatu hari di suatu tempat, saya tidak sengaja terlibat dalam pembicaraan dengan seorang teman dekat.. dia kesal karena temannya bercerita tentang masalah yang sedang dialami.. lalu teman dekat saya ini memberikan saran, atau lebih tepatnya mungkin bisa dibilang pendapat.. dalam masalah yang dihadapi temannya itu, dia berpendapat begini, “anggap aja dia ga ada, jadi lo ga harus berpusing-pusing bertanya kenapa dia ga sms gw, kenapa dia ga nelpon gw, kenapa dia susah banget dihubungin.. anggap aja dia ga ada jadi lo ga usah repot-repot mikirin dia.. nanti pada saatnya dia tiba-tiba menghubungi lo, pasti rasanya akan sangat menyenangkan dibanding ketika lo sangat mengharap-harapkan dan dia tiba-tiba mengabari lo.. pendapat gw sih seperti itu…”

tapi teman dekat saya itu kesal karena temannya ini malah mengomentari pendapatnya sambil ngomel-ngomel dan merengek-rengek.. sementara teman saya itu hanya menghela nafas panjang mungkin, lelah memberi saran atau pendapatnya jika terus-terusan harus berdebat dengan temannya itu..

lalu saya pikir-pikir, ada benarnya juga apa kata teman saya.. ketika kita mengharap-harapkan sesuatu atau seseorang untuk melakukan sesuatu lalu hal tersebut tidak tejadi, maka kekecewaan yang didapat luar biasa rasanya.. tapi jika kita menganggap hal atau orang itu tidak ada, maka kita tidak akan berharap-harap cemas atau menunggu-nunggu sesuatu yang tidak kita ketahui kejelasan atau kepastiannya.. namun jika sesuatu terjadi dan itu adalah sesuatu yang baik yang berhubungan dengan hal atau orang tersebut, maka itu akan menjadi seperti sebuah kejutan yang sangat menggembirakan untuk kita..

lalu tentang orang yang kepadanya saya jatuh cinta tempo lalu.. (bahasa yang aneh..), saya pikir tidak ada salahnya untuk menerapkan hal ini dalam keadaan itu.. yah karena orang itu tinggal di kota yang berbeda dengan saya, sehingga komunikasi yang dilakukan hanya lewat pesan singkat (sms) dan beberapa kali lewat percakapan (singkat) di telepon.. maka bagi saya, kabar dari dia adalah sesuatu yang sangat saya nanti-nantikan setelah beberapa kali hampir jadi bertemu tapi kemudian tidak jadi..

lalu saya lelah dan cape sendiri, bertanya-tanya, kenapa sms saya tidak dibalas, kenapa kalo pulsanya habis dia tidak mencoba menelpon saya seperti yang pernah dia lakukan beberapa kali.. saya cape.

lalu saya mencoba menganggap bahwa dia tidak ada.. walaupun ternyata sangat sulit, karena bagaimana mungkin, biasanya saya tiap hari akan saling berkabar-kabar dengan dia, mendengarkan lagu yang pernah dia mainkan untuk saya, dan tiba-tiba saya harus ‘menghapus’ dia sementara dari hidup saya.. sulit. tapi saya harus mencoba. beberapa kali memang berhasil, tapi lebih sering gagal. karena tau apa yang terjadi, semakin saya berusaha menghapus dia, maka tiba-tiba dia muncul di mana-mana, lewat nama orang yang hampir sama dengan namanya, atau lewat hal-hal yang erat kaitannya dengan dirinya… *sigh*

dan pada akhirnya saya menyerah.. saya tidak bisa langsung, saya tidak bisa begitu saja ‘menghapus’ dia.. butuh waktu untuk membiasakan diri..

dan saya tiba-tiba teringat lagu “The Eraser”-nya Thom Yorke (ah, lagu ini juga mengingatkan saya akan dia, salah satu lau favorit dia dari album The Eraser, yang kemudian menurut dia dijadikan ringtone di hp nokia 6680-nya..)

The Eraser


Please excuse me but I got to ask
Are you only being nice
Because you want something
My fairy tale arrow pierces
Be careful how you respond
‘Cause you’d not end up in this song
I never gave you an encouragement
And it’s doing me in
Doing me in
Doing me in
Doing me in

The more you try to erase me
The more, the more
The more that I appear
Oh the more, the more
The more you try the eraser
The more, the more
The more that you appear

You know the answer so why do you ask
I am only being nice
Because I want someone, something
You’re like a kitten with a ball of yarn
And it’s doing me in
Doing me in
Doing me in
Doing me in

The more you try to erase me
The more, the more
The more that I appear
Oh the more, the more
The more I try to erase you
The more, the more
The more that you appear
No, you’re wrong, you’re wrong
You’re wrong, you’re wrong
You’re wrong, you’re wrong
You’re wrong

ah, saya tidak tahu harus bagaimana.. terkadang pikiran semacam ini sangat mengganggu saya.. yang perlu saya lakukan adalah menunggu malam tiba untuk segera tertidur dan terbangun esok hari dan lupa akan apa yang saya pikirkan kemaren..

ah malam, segeralah datang..

ps:thanx ya kk’ icha..

hampir setahun saya tidak menulis..

April 9th, 2008 by timunkancil

Hampir setahun saya tidak menulis lagi.. dan entah kenapa saya jadi ingin menulis lagi.. mungkin karena belakangan banyak kejadian yang saya alami berikut dengan berbagai kenangan dan emosi yang tersimpan di balik tiap kejadian.. banyaknya orang yang terlibat dalam kejadian-kejadian tersebut..

Yang jelas salah satu kejadian yang mendorong saya untuk menulis lagi adalah kejadian hari Minggu, 30 Maret 2008 yang lalu.. Sebuah kejadian yang membuat saya berpikir “betapa beruntungnya saya” masih bisa hidup.. Ceritanya begini.. Pagi hari setelah pulang dari gereja bersama Bapak, Mama, dan David, kami sarapan dan kemudian siap-siap untuk memasak karena siang ini rencananya kami akan ke Karawaci untuk berkunjung ke rumah Bang Robet, sekalian untuk bermain-main dengan si Hazel.. Selama dalam perjalanan tidak ada hal yang cukup signifikan untuk dijadikan pertanda atau apapun itu namanya.. kami tiba di Karawaci sekitar jam 12 siang lalu kami makan. Setelah itu kami melihat rumah Bang Robet yang sedang direnovasi (selama rumah mereka direnovasi, mereka tinggal di rumah yang dikontrak, hanya beda beberapa dari rumah jaraknya dari rumah mereka). Sekitar jam 4 sore, kami pun pamit untuk pulang. Cuaca cukup cerah. Tetapi begitu memasuki tol dalam kota di daerah Pancoran, jalanan basah, rupanya hujan baru turun. Langit di daerah sana (mungkin bisa dibilang di daerah Bekasi) cukup gelap. Kami berpikir mungkin di Jatibening sudah hujan deras. Dalam perjalanan pulang, kami sama sekali tidak bertemu dengan hujan. Di Jatibening pun tanda-tanda hujan baru turun tidak terlalu kelihatan.

Kami tiba sekitar pukul 5 sore. Mama masuk ke dalam duluan sementara saya masih membuka pintu garasi yang tambah lama tambah berat dan Bapak memundurkan mobil ke garasi. Begitu saya masuk ke dalam, Mama dengan panik bilang begini, “Kok banjir di dalam?”. Saya melihat karpet di ruang tamu dan kursi sudah basah. Yang pertama saya pikirkan adalah mungkin ada kebocoran pipa air dari kamar mandi di atas, atau mungkin akuarium pecah dan airnya tumpah atau, tempat si kura-kura jatuh.. tapi kenapa airnya begitu banyak.

Saya tergesa-gesa naik ke atas. Ternyata air berasal dari plafon di depan pintu kamar saya. Ada 3 titik yang meneteskan air. Sempat berpikir, bagaimana air bisa sampai di sana.. kemudian saya membuka pintu kamar saya. Dan, betapa terkekjutnya saya!

Menulis1 Setengah plafon kamar saya sudah jatuh di atas tempat tidur bersama pecahan-pecahan plafon yang basar, 2 buah ember yang sedianya berfungsi untuk menampung air hujan di kala genteng sedikit bocor dan sebuah batu bata yang entah dari mana. Sontak saya merasa kedua kaki saya lemas. Saya hanya bisa memegang pintu dan menutup mulut saya tidak percaya akan apa yang saya lihat. Saya melihat Kembali_menulis3 komputer di meja aman, karena posisinya agak dekat pintu, sementara plafon yang jatuh tepat dari bawah lampu hingga ke jendela belakang tempat tidur saya.

Saya berteriak memanggil Mama di bawah. Mama pun sepertinya begitu terkejut sehingga tidak bereaksi apa-apa selain meminta saya agar tidak berteriak-teriak.. Saya berlari ke bawah, mencari Bapak. Bapak baru saja akan masuk setelah memarkir mobil ketika saya menceritakan apa yang terjadi dengan suara gemetar, muka pucat, dan mata yang berair.. Komentar Bapak pertama kali adalah, “Jangan menangis! Untuk apa menangis-menangis?!”

Saya shock. Itu saja.

Lalu kami ke atas, ke kamar saya melihat kembali keadaannya. Saya lalu mulai mengungsikan buku-buku di atas meja, serta barang-barang lainnya. Setelah itu saya memindahkan komputer dari atas meja ke kamar Hazel. Tangan saya gemeratan hebat. Berpikir, apa yang sebenarnya terjadi. Lalu kami melihat ke atas, ke genteng-genteng yang sudah begitu jelas terlihat dari sebelah tempat tidur saya. Sepenglihatan kami, tidak ada satupun genteng yang bergeser atau tidak pada tempatnya. Bapak segera keluar untuk melihat dari jauh konstruksi atap rumah kami. Tapi tidak menemukan kejanggalan apapun..

Kami pun mengira-ngira bahwa tadi terjadi hujan yang disertai angin sangat kencang seperti yang beberapa waktu lalu terjadi, bahkan menyerupai angin puting beliung. Lalu hujan masuk lewat celah-celah genteng dan membasahi plafon sehingga plafon terlalu berat dan tidak mampu bertahan pada paku yang melekatkannya pada kayu-kayu di atas, sehingga terjatuh.

Satu hal yang kami takutkan hingga akhir hari itu adalah jatuhnya plafon di ruang tengah, tempat bergantungnya lampu gantung besar itu. air yang menetes dan membasahi karpet dan sofa di bawah itu datangnya dari plafon itu, sehingga mungkin saja plafon itu juga sudah begitu beratnya. Kami hanya mampu memindahkan kursi-kursi di bawah serta menurunkan foto keluarga yang menggantung di dinding. Takut kalau-kalau terjadi sesuatu.

Sisa hari itu kami habiskan dengan memecah plafon agar bisa dimasukkan ke dalam karung untuk dibuang dan membereskan beberapa hal. Bapak mencoba menghubungi tukang untuk bisa datang hari Senin untuk melihat kerusakan yang terjadi.

Setelah itu kami mandi dan bersiap untuk makan malam. Saya kehilangan rasa lapar dan nafsu makan saya. Saya masih sedikit shock melihat keadaan kamar saya. Membayangkan siang tadi saya tidak ikut ke Karawaci dan saat kejadian itu saya sedang tidur-tiduran di kamar dan saya tertimpa pecahan-pecahan plafon itu. kalaupun tidak terluka, pastinya saya akan sangat shock.

Tapi Tuhan itu baik dan rupanya masih memberi saya kesempatan untuk hidup. Untuk hidup dengan cara yang benar dan lebih baik lagi. Oleh sebab itu, setelah saya mandi, saya datang ke meja makan. Duduk dan terdiam. Lalu Bapak dan Mama mengajak saya berdoa. Kami mengucap syukur karena Tuhan sekali lagi telah melepaskan saya dari bahaya yang siang tadi terjadi. Saya menangis.

Malam itu saya hanya bisa banyak diam dan tidak tahu harus berbuat apa. Setelah berdoa pukul 9, kami lalu tidur. saya tidur di kamar si Hazel. Ada perasaan kuatir yang mendalam di hati saya. Perasaan takut yang mengantar saya pada penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Malam itu saya tidur sambil memeluk Alkitab, dan terbangun tiap 1 jam, dengan segala macam mimpi yang tidak jelas, tapi cukup meresahkan.

Senin, 31 Maret 2008

Saya bangun karena Mama mengetuk pintu kamar. Kami membaca Alkitab bersama seperti yang biasa kami lakukan tiap paginya. Bapak meminta agar sebelum berangkat saya membantu Bapak untuk menurunkan tempat tidur saya ke bawah, agar dijemur di luar kalau hari ini cerah. Lalu kami mengangkat bagian atas tempat tidur itu. Untung David belum berangkat sehingga dia bisa membantu mengangkatnya di tangga. Setelah itu saya bersiap-siap untuk pergi.

Sepanjang jalan saya terus berdoa agar hari itu tidak datang hujan deras disertai angin kencang lagi. Selama di kantor saya selalu melihat keadaan langit. Menelpon Mama untuk menanyakan keadaan di rumah. Kata Mama langit sudah mendung dan tukang belum bisa datang.

Sore hari menjelang dan saya pulang. Setibanya di rumah, Bapak dan Mama bercerita bahwa tadi sore hujan deras dan angin kencang datang. Tapi tidak terjadi apa-apa. Hanya saja mereka melihat sedikit air yang menetes-netes dan masuk lewat cela-cela genteng. Menulis4

Saya menghela nafas.. merasa sedikit lega.

Itulah kira-kira kejadian yang cukup besar yang terjadi beberapa hari lalu. Kejadian yang mau tidak mau merubah cara berpikir saya. Saya harus hidup lebih baik lagi. Hidup dengan benar. Karena seperti kata Bapak, bahwa kita tidak akan pernah tahu kapan waktunya akan tiba, tapi kalau kita senantiasa siap dan berserah diri kepada Tuhan, apa yang harus kita takutkan.

Dan saya rasa, saya sama sekali belum siap. Dan saya harus mulai bersiap-siap.

So damn lucky.. begitu kata Dave Matthews ..

“Terima kasih Tuhan karena Kau masih memberi kesempatan untuk saya melihat dan mengalami semua ini sehingga menyadarkan saya bahwa kapanpun saya bisa berakhir dari dunia ini, sehingga sudah saatnya saya mempersiapkan diri saya.. dan terima kasih untuk waktu dan kesempatan yang Kau berikan, untuk semuanya..”

June 25th, 2007 by timunkancil

Jurnal2_1